Firasatku tentang sikap orang-orang yang terasa aneh hari ini terjawab sudah. Diksi demi diksi di postingan tersebut berhasil memposisikanku sebagai bagian dari cerita yang sedang ditulis orang lain, tak peduli apakah itu fakta atau kebohongan yang dikemas mulus. Aku melangkah dengan tatapan kosong, tanpa menyadari arah yang kutuju. Hingga, sebuah bangku beton panjang menghentikan kakiku. Seolah menyerah, aku membungkuk, luruh, setengah berbaring di tempat duduk itu. Kedua tanganku terangkat lagi, bergetar halus di depan mataku. Kenapa aku bisa gagal meraihnya? Pertanyaan itu… berulang. Bukan sekali atau dua kali. Tapi seperti kaset rusak yang diputar tanpa henti di dalam kepalaku. Aku memejamkan mata. Namun justru di sana... semuanya semakin jelas. Lampu minimarket, pekikan nge

