BAB 69

1273 Words

“Apa pun yang akan kamu dengar di dalam, tahan emosimu,” ujar Om Dirga. Beliau menahanku saat kami beberapa langkah lagi dengan pintu ruang sidang. “Yang mereka mau cuma satu, ngebuktiin kalau gugatan ini bukan karena mereka salah, tapi karena penggugat yang emosional.” “Oke, Om,” tanggapku. Kami kembali ke ruang sidang. Aku duduk di posisi semula, sementara keempat paman Amanda duduk bersamanya di kursi pengunjung. Suasana masih sama. Dingin, kaku, dan membuatku tak nyaman. Tatapanku menyapu ke banyak wajah. Perwakilan perusahaan dan penasihat hukumnya, petugas pengadilan, wartawan, hingga mereka yang duduk di area pengunjung. Termasuk... Erin. Majelis hakim kembali masuk. Semua berdiri. Lalu duduk lagi. Panitera membuka berkas. Hakim ketua menatap ke penasihat hukum terdakwa. “

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD