Pagi itu, tempat tidur terasa terlalu luas untuk Arielle. Ia terbangun dengan tubuh masih lelah, berharap menemukan Alvaro di sisinya. Namun sisi ranjang yang dingin memberi jawaban lain. Pria itu tidak ada. Bukan hanya baru pergi sebentar, tapi benar-benar tidak ada jejak bahwa ia sempat kembali ke kamar setelah malam berlalu. Arielle bangkit terburu, jantungnya berdegup tak menentu. Ia membuka pintu kamar, langkahnya terdengar cepat di koridor sepi. Setiap ruangan yang dilewatinya ia lirik sekilas, berharap mendengar suara berat yang menenangkan itu. Namun nihil. “Alvaro…” desisnya pelan. Belum jauh ia menuruni anak tangga, suara lain menghentikan langkahnya. “Untuk apa kau repot-repot mencarinya.” Arielle menoleh cepat. Leon berdiri di ujung koridor dengan wajah datar, rambut masih

