Sehan masih duduk di ruangannya ketika Matteo tiba-tiba masuk tanpa basa-basi. Sorot mata Matteo dingin, tajam, penuh kuasa. Ia berdiri di hadapan Sehan dengan sikap tegap, menatapnya seakan ingin merobek dinding pertahanan yang coba dipasang pria itu. “Kau pikir aku tidak melihat sorot matamu waktu di rumah sakit?” suara Matteo rendah, tapi sarat ancaman. “Kau terlalu berani menantang Alvaro dengan tatapan itu. Dan yang lebih gila, kau berani mengarahkan pandanganmu pada istrinya.” Sehan menegang. Ia tidak langsung membantah. Tangannya terkepal, tapi ia mencoba tersenyum tipis. “Kau terlalu cepat menilai, Matteo. Aku tidak melakukan apa-apa.” Matteo mendengus kasar. “Aku tidak butuh pengakuanmu. Kau tahu siapa yang kau hadapi. Kau tahu konsekuensinya kalau Alvaro benar-benar murka. Ing

