Meski wajahnya pucat dan tubuhnya seperti ingin menyerah, Arielle tetap memaksakan diri. Satu per satu suapan ia telan. Nasi, lauk, hingga potongan buah yang tadinya hanya ia tatap tanpa selera, kini habis perlahan. Setelah itu ia meneguk s**u khusus ibu hamil yang disarankan ahli nutrisi milik klan De Luca, lalu meminum vitamin yang diletakkan Alvaro tepat di depannya. Tangannya gemetar saat meletakkan gelas kosong itu kembali ke meja. Nafasnya terengah, bukan karena kenyang, melainkan karena seluruh tubuhnya menolak sejak awal. Namun ia bertahan. “Aku sudah selesai,” gumam Arielle dengan suara lemah, seolah keberhasilan menghabiskan semuanya adalah kemenangan yang baru saja ia raih dengan susah payah. Alvaro menatapnya tanpa ekspresi sejenak, lalu mengangguk kecil. “Bagus.” Suaranya d

