Begitu Arsya pulang dan pintu depan tertutup, Dede seperti baru diizinkan bernapas. Ia tidak menunggu lama, tangannya yang sejak tadi dingin langsung meraih ponsel, langkahnya cepat menaiki tangga menuju kamarnya. Pintu ia tutup rapat lalu dikunci diputar sekali. Barulah ia bersandar di daun pintu, menunduk, menarik napas panjang yang terasa sesak. Rasanya persis seperti orang yang baru saja menyebarkan kabar bohong besar dan sekarang menunggu waktu sampai kebohongan itu terbongkar. Jantungnya masih berdetak terlalu kencang, kepalanya pening, dan perutnya terasa mual. Dede belum pernah berada di posisi seperti ini. Ia bukan tipe yang pandai mengarang cerita, apalagi berbohong soal hubungan. Maka wajar jika ketakutan itu datang bertubi - tubi, tanpa ampun. Tanpa buang waktu lagi, ia mene

