"Panas nggak sih?" tanya Tanti pelan ketika ia terpaksa menghentikan ciuman Arman yang mulai terasa semakin dalam, napasnya sudah tidak beraturan dan dadanya naik turun menahan sisa degup yang belum stabil. Arman tidak langsung menjawab. Ia menatap Tanti beberapa detik, wajahnya sedikit memerah, bukan hanya karena suasana, tetapi juga karena kedekatan yang baru saja terjadi. "Panas ... lagi panas - panasnya," jawabnya pelan, suaranya lebih rendah dari biasanya. Tangannya yang sejak tadi berada di sekitar Tanti perlahan bergerak lembut dan melayang menjadi sentuhan ringan, tetapi cukup untuk membuat Tanti kembali salah tingkah. "Buka aja bajunya biar dingin," lanjutnya sambil tersenyum, tetapi jelas ada maksud lain di balik kalimat itu. Tanti langsung tersadar, merasa seperti terjebak

