Arsya Syukuran

2121 Words

Pagi itu Jakarta terasa berbeda. Jalan Sudirman yang biasanya padat kini lengang, hanya dipenuhi orang - orang yang berjalan santai, berlari kecil, atau bersepeda. Mobil Vellfire milik Eyang Nino berhenti di ujung jalan Senopati. "Nanti jemputnya di mana, bang?" "Nanti aku kabarin, Pak, mungkin di stasiun MRT." "Iya, Bang, telpon aja," jawab sopir itu singkat. Sopir pun meninggalkan mereka berempat. Sebelumnya mereka sepakat berjalan kaki sampai Bundaran HI. Tidak ada yang benar - benar mengatur formasi. Langkah mereka mengalir begitu saja. Seperti biasa, Tanti yang paling heboh langsung melesat ke depan bersama Arman. Sesekali terdengar tawanya pecah, diselingi komentar soal outfit orang - orang yang lewat atau anak - anak muda kreatif yang membuat stan minuman yang terlihat menarik

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD