"Aaaaaaa!" Jeritan Dede kali ini lebih panjang, lebih melengking, dan lebih tidak terkontrol. Mulutnya memang tertutup bantal, tapi tetap saja suaranya bocor ke mana - mana, Kasurnya berderak keras ketika ia berguling ke kiri, lalu ke kanan, lalu menendang udara seperti anak kecil yang baru dapat hadiah sepeda. "Astaga, Dede … tenanglah!" gumamnya sendiri, tapi yang ada malah makin tertawa. Pipinya panas. Jantungnya belum juga mau melambat. Rasanya seperti habis lari keliling kompleks, padahal ia cuma duduk diam setelah telepon tadi. Pacar. Kata itu berputar - putar di kepalanya. Pacar. Arsya. Ia menutup wajahnya lagi dengan bantal dan menjerit kecil, kali ini karena malu sendiri. Setelah telepon itu selesai, ia memang masih berusaha terlihat biasa saja. Nada suaranya tadi bahkan

