Hari kedua di Manchester dibuka dengan suasana yang jauh lebih ringan. Jika pada hari pertama mereka masih berjalan dengan langkah yang sedikit berat karena sisa jet lag, pagi ini wajah - wajah itu tampak lebih segar. Ritme tidur sudah mulai menyesuaikan diri. Tidak ada lagi yang terbangun pukul dua dini hari tanpa alasan. Tidak ada lagi keluhan pusing atau mual ringan akibat perbedaan waktu. Sarapan berlangsung lebih hidup dibanding kemarin. Tawa terdengar lebih lepas. Bahkan Aki Owie yang biasanya paling cepat selesai makan, pagi itu sempat menambah satu porsi kecil buah segar. "Sudah terasa normal," komentar Kakek sambil melipat serbetnya dengan rapi. "Jet lag-nya sudah menipis," sahut Nenek pelan. Arsya memperhatikan semuanya dengan saksama. Ia tahu, hari ini ia bisa sedikit menaik

