Rani menarik napas panjang sebelum akhirnya menggeleng pelan. “Maaf, Nak Aldo,” ucapnya dengan suara tertahan namun tegas. “Ibu sudah berjanji pada Ririn untuk merahasiakan keberadaannya. Ibu tidak bisa memberitahumu.” Wajah Aldo seketika menegang, namun ia cepat menahannya. “Tapi,” lanjut Rani, menatapnya dalam-dalam, “kalau memang kesalahanmu tidak berat, dan kamu sungguh menyesal, nanti kalau ibu bertemu lagi dengannya, ibu akan coba melunakkan hatinya. Ibu akan bicara baik-baik dengan Ririn.” Janji itu tidak serta-merta menenangkan Aldo. Justru sebaliknya, dadanya terasa makin sesak. Ia menunduk, rahangnya mengeras. “Tapi, Bu…” Aldo hendak memotong, suaranya terdengar tertekan. “Dia istriku. Apa pun yang terjadi, seharusnya dia pulang. Masalah rumah tangga itu bisa diselesaikan

