Aldo melangkah masuk lebih dulu, diikuti Rani yang sejak tadi menggenggam tasnya erat. Pandangan Aldo langsung menyapu seisi rumah makan itu,meja-meja kayu sederhana, aroma masakan yang bercampur asap, dan tampak pemilik usaha yang sudah berusia hampir setengah abad. Dadanya terasa dihantam kenyataan. Di sini Ririn bekerja? Ia menelan ludah. Tidak pernah terlintas di benaknya bahwa Ririn akan memilih bertahan di tempat seperti ini daripada kembali ke rumah, kembali padanya. Ririn yang dulu selalu rapi, lembut, dan terjaga, kini memilih dunia yang sama sekali berbeda, keras, sederhana, dan jauh dari bayangannya sebagai istri Aldo. Rani pun terdiam. Wajahnya menegang, matanya berkeliling, jelas menahan perasaan campur aduk antara sedih, kecewa, dan bersalah. “Saya ingin bertemu Ririn…”

