Langit Paris malam itu berwarna baja gelap, seperti kota sedang menunggu pecahnya badai yang tidak terlihat. Dari balkon apartemen tinggi yang menghadap Montparnasse, suara angin beradu dengan kaca jendela seperti bisikan perang jauh di bawah. Di dalam ruangan, suasana jauh lebih tegang dari angin luar. Dominick berdiri di tengah ruangan, jaketnya setengah terbuka, masih dengan bekas darah kering musuh di kerahnya. Sorot matanya gelap namun tajam, seperti hewan buas yang baru saja keluar dari medan pembantaian dan kini harus menentukan langkah berikutnya. Rejun berdiri di sampingnya, masih tampak sedikit pucat, bekas koma setahun itu meninggalkan jejak samar pada wajahnya—tapi auranya... tetap sama. Dingin. Presisi. Mematikan. Meverick memasang jammer di setiap sudut ruangan dengan kec

