Kehadiran adik-adiknya jadi energi positif untuk Felora setelah hari-hari sedih mengenai identitas dirinya. Perbedaan itu ada tetapi jadi tak terlihat saat dapatkan kasih sayang yang tulus. Tak apa bila berbeda, asal Felora tidak ingin kehilangan semua yang dimilikinya saat ini. Mencoba tak peduli lada Hanan yang tak pernah menemuinya hingga sudah menggoreskan luka dihatinya. “Ka Felo,” panggil Harsa di tengah pelukannya. “Hm,” “Kami sudah datang, mendoakanmu juga. Jadi, nanti bagi kami jatah es krim, puding dan kue cokelatmu ya, walau Eyang membuatnya hanya untukmu!” Ujar adiknya. Felora berdecak, tetapi kemudian tertawa renyah. Begitu juga yang lainnya ikut menertawakannya. “Tetap ya Harsa, merayu demi makanan favorit!” Decak Kaflin. Pintu di buka, Halim yang baru bergabung,

