Halim menunggu sambil memperkirakan Kikan sampai Hamburg. Ia ingin bicara dengan Kikan. Hari berlalu, Kikan harusnya sudah sampai kemarin. Tetapi, sampai sore ini nomor yang Halim simpan, nomor yang Kikan gunakan di Hamburg, maupun lainnya tak bisa dihubungi. Bahkan nomor Oma dan Anty Rimar. Halim menggila, tak lagi rasional ketika pekerja mengadu jika Halim mengacak-ngacak lemarinya. “Astaga, apa yang kamu cari?!” decak Amira. “Paspor dan surat-surat aku lainnya, aku akan mencari tiket untuk ke Hamburg.” “Semua ada di Ayah,” kata Amira. Halim berhenti melempar pakaiannya, kembali menatap Amira. “Apa maksud Bunda?” “Ayah yang menyimpannya, agar kamu tidak bisa pergi ke Hamburg. Mengganggu Kikan lagi.” “Bunda, aku ingin mempertahankan pernikahan ini!” “Kenapa?” Halim terdi

