Halim mengeratkan pelukannya pada sang istri, di bawah selimut yang menggulung tubuh mereka. Senyumnya terlihat, kado spesial yang memang Halim sukai. Mereka pergi dinner kemudian anak-anak tidur di jalan pulang. “Sudah bangun, Mas” sapa suara serak Kikan sambil mencium rahangnya. “Hadiah dariku menyenangkan bukan, Mas?” Halim terkekeh, “aku bisa dapat hanya saat ulang tahun?” “Bisa setiap hari, aku beli baju itu kan dari uang kamu juga.” ia tertawa manja. Kikan bergerak bangun, kemudian duduk membiarkan selimutnya merosot, Halim ikut bangun, mendekat dan mencium bahu hingga menyingkirkan rambut panjang Kikan ke satu sisi saat bibirnya bergerak ke belakang tengkuknya. Kikan merasakan kulitnya meremang merasakan ciuman tersebut, “Keenan sebentar lagi bangun, Mas.” “Hm,” Halim men

