58

1109 Words

Malam kian larut, namun cahaya di ruang kerja pribadi Mahendra di mansion utama masih benderang. Suasana di dalam ruangan beraroma cerutu dan kayu tua itu terasa sangat berat, seolah dinding-dindingnya pun ikut memikul beban rahasia yang selama ini terkunci rapat. Mahendra duduk di kursi kebesarannya, menatap putra tunggalnya yang berdiri tegap di depan jendela besar, menatap kegelapan taman. Praditya tampak begitu kokoh, namun Mahendra tahu ada badai yang sedang berkecamuk di balik punggung tegap itu. "Kamu yakin akan melakukan ini, Nak?" tanya Mahendra, suaranya parau dan sarat akan kekhawatiran seorang ayah. "Langkah ini tidak bisa ditarik kembali. Sekali kamu membukanya di depan media, Ararya akan berguncang." Praditya berbalik perlahan. Sorot matanya tajam, dingin, dan penuh determ

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD