64

1956 Words

Mobil sport milik Praditya menderu memecah kesunyian gang sempit di kawasan pinggiran Jakarta. Ban mahalnya berdecit kasar saat ia menghentikan kendaraan itu tepat di depan sebuah bangunan petakan yang dulu pernah ia datangi untuk menjerat Amindita dan selama ini menjadi rumah kontrakan Brotoadmojo. Ayah mertuanya. Praditya turun dengan napas memburu. Penampilannya benar-benar kacau; beskapnya sudah tak dikancingkan, blangkonnya entah jatuh di mana, dan jarik yang membelit kakinya ia singkap kasar hingga ke lutut agar bisa berlari. Namun, langkahnya seketika terhenti saat melihat gerbang besi berkarat itu terkunci rapat dari luar dengan gembok besar. Suasana kontrakan itu terasa sunyi, sepi dan sudah tak berpenghuni. Tidak ada jemuran di depan, tidak ada suara radio tua milik mertuanya,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD