68

1203 Words

Ruang kerja Praditya di lantai teratas gedung Ararya Group tidak lagi tercium aroma kopi mahal atau parfum kayu cendana yang elegan. Ruangan itu kini berbau tajam alkohol yang menyengat, bercampur dengan asap cerutu yang menggantung tebal di udara. Gorden otomatis tertutup rapat, membiarkan ruangan itu tenggelam dalam kegelapan meski matahari Jakarta sedang terik-teriknya di luar sana. Praditya duduk di balik meja kebesarannya dengan kemeja putih yang sudah kusut, dua kancing teratas terbuka, dan lengan baju disingkap asal. Matanya merah, bukan hanya karena alkohol, tapi karena kurang tidur selama berhari-hari. Di depannya, sebuah botol whisky sudah kosong setengah, berdiri di samping tumpukan laporan tim detektif yang semuanya berakhir dengan kata: Nihil. "Belum ada kabar?" suara Pradit

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD