Liona berdiri mematung, napasnya terhenti seakan dunia di sekitarnya membeku. Obeng yang baru saja ditancapkannya, kini terpulas merah oleh darah yang bukan milik Jessica seperti niat awalnya, tetapi darah Levin—pria yang dengan cepat melindungi calon istrinya. Ia salah sasaran. Matanya terpaku pada punggung Levin, pada gerakan tangan Jessica yang gemetar saat meraba sesuatu di sana. Ekspresi syok tergurat jelas di wajah wanita itu. "Kak Levin, apa kamu baik-baik saja?" Suara Jessica terdengar bergetar, penuh dengan kecemasan. Matanya membelalak, hampir tak percaya melihat darah mengotori jemarinya. Levin menatap Jessica, mengangguk perlahan. "Aku baik-baik saja," gumamnya dengan suara lirih, hampir berbisik. "Yang penting, kamu tidak apa-apa." Namun, Jessica bisa melihat guratan sakit

