Pagi itu suasana rumah Ancelotti sedikit berbeda dari biasanya. Zenia sudah bangun lebih awal. Rambutnya disanggul sederhana, mengenakan setelan blazer lembut berwarna krem yang masih memberi ruang nyaman untuk tubuhnya yang belum sepenuhnya pulih setelah melahirkan. Di atas ranjang, Althea Aurelia Ancelotti sedang terbangun. Bayi kecil itu menggerakkan tangannya pelan sambil mengeluarkan suara kecil yang manja. Zenia duduk di tepi ranjang sambil memakaikan baju bayi berwarna putih lembut. “Sebentar saja kita ke kantor,” gumam Zenia pelan pada putrinya. “Mama harus rapat.” Althea menggerakkan kaki kecilnya seolah tidak peduli. Di pintu kamar, Matteo berdiri memperhatikan mereka. “Kamu yakin mau datang sendiri?” tanya Matteo. Zenia menoleh. “Aku pemegang saham terbesar kedua. Kalau

