Bab 100: Tak Seindah yang Lalu

1281 Words

Wulan meletakkan secangkir kopi dan pisang goreng di atas meja. Ali duduk menyandarkan kepalanya di dinding. Matanya terpejam. Wajahnya semakin keruh setiap hari. “Mas, kopinya,” Wulan menyentuh lembut tangannya. Ali membuka matanya perlahan. Dia menggerakkan lehernya yang terasa kaku. “Pegal? Mau aku pijat?” tawar Wulan. Rumah kecil itu begitu sunyi. Hanya ada dua orang dewasa yang tak banyak saling bicara. Anak mereka yang menjadi satu-satunya penghiburan sudah terlelap sejak tadi. Ali mengambil kopinya dan menyeruputnya perlahan. Badannya memang terasa begitu pegal. “Sini aku pijat biar enakan. Mau di kamar saja sama Adeeva?” tawar Wulan. Ali menyeruput kopinya sekali lagi, lalu masuk ke dalam kamar tanpa suara. Dia melepas kaosnya, kemudian tengkurap di sisi bayinya yang sudah

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD