Ayu menunggu dengan gugup bersama ayah dan ibunya. Endra juga ada di sana. Laki-laki itu bersedia membantu dengan perjanjian bersama Zara yang bahkan tidak diketahui Ayu. Zara tidak mau memberitahunya meski Ayu memaksa. Endra menilik jam tangannya. Sidang pertama ini hanya mengagendakan mediasi antara kedua belah pihak. “Sudah lewat setengah jam,” ucap Endra. “Biar Papa telepon anak itu,” pak Rohmat mengeluarkan ponselnya tapi ia tak mendapatkan hasil apapun. Tak lama, Ali datang dengan wajah kusut tanpa didampingi siapapun. Penampilannya pun tampak begitu kacau. Ia menyandang sebuah tas ransel di pundaknya. “Maaf, saya terlambat. Saya dari bandara,” ucapnya sembari menatap lekat istrinya, seolah hendak meminta simpati Ayu. Ayu memalingkan wajahnya. Memikirkan bahwa suaminya pulang

