Udara malam yang sejuk menyambut mereka usai resepsi. Lampu-lampu kota masih berkedip ramah saat Yudistira dan Kirana melangkah keluar dari ballroom menuju lobi hotel. Di kejauhan, terlihat sosok Sinta berdiri tak jauh dari pintu putar, jari-jarinya tak berhenti memainkan tali tas kecilnya. "Sinta," sapa Yudistira, suaranya hangat memecah kesunyian. Sinta menoleh, wajahnya sedikit terkejut sebelum tersenyum. "Kalian sudah mau pulang? Tidak menginap di suite yang sudah dipesan?" tanyanya sambil meraih tangan Kirana. "Kami memilih kembali ke apartemen," jawab Kirana, jari-jarinya dengan lembut memeluk tangan Sinta. "Kamu sedang menunggu seseorang? Pak Dirga, mungkin?" tambahnya dengan senyum penuh arti. Semburat merah merona di pipi Sinta. "Aku menunggu Papa ... tapi dia bilang masih ing

