"Sayang!" Yudistira segera meraih pundak Kirana yang basah kuyup, wajahnya dipenuhi kepanikan dan amarah yang tertahan. Dengan tenaga yang tak terduga, Kirana mengangkat tangan halusnya, menghentikan langkah Yudistira. "Aku baik-baik saja," bisiknya dengan suara yang tiba-tiba menjadi sangat dingin. Dia bangkit dengan elegan, meski anggur merah masih menetes dari rambutnya. Matanya yang biasanya lembut, kini membakar dengan api kemarahan yang tertahan lama. Dengan gerakan tenang yang mengejutkan, dia mengambil botol anggur di atas meja. "Kirana, jangan—" Yudistira mencoba mencegah, namun terlambat. Tapi Kirana tidak menuangkannya ke gelas. Dengan presisi yang mematikan, dia mengangkat botol itu dan menuangkan isinya tepat di atas kepala Vanessa. Cairan merah mengalir deras, membasahi r

