Ballroom hotel yang megah dipenuhi gemerincing gelas dan suara tawa. Di tengah keramaian resepsi pernikahan Dirga dan Sinta, Yudistira dengan hati-hati memandu Kirana ke sebuah kursi yang nyaman. "Duduklah di sini, Sayang," ujarnya dengan suara lembut, tangannya dengan protektif menuntun bahu Kirana. Kerutan halus di dahinya mengungkapkan kecemasannya yang tak terucap. Kirana mengikuti bimbingannya dengan patuh, setelah beberapa jam mengikuti jalannya acara tubuhnya dengan mudah menyerah pada kelelahan. "Terima kasih, Sayang." Yudistira membungkuk, matanya penuh perhatian. "Biar kuambilkan camilan atau minuman untukmu. Kamu pasti lapar." Sebuah tawa kecil meledak dari bibir Kirana. "Apa saja, aku memang lapar sekali." Dengan senyum hangat, Yudistira mengusap rambut Kirana dengan lembu

