60. Rencana Renovasi

1845 Words

Perjalanan menuju markas tempat ia akan bertemu ayahnya terasa lebih panjang dari biasanya. Suasana mobil sunyi. Hanya suara mesin dan denting halus jam tangan Elvano yang sesekali bergerak mengikuti detik. Di balik kaca mobil yang gelap, gedung-gedung tinggi Jakarta terlihat buram, seakan menggambarkan pikirannya yang sama-sama kusut. Dario, yang duduk di kursi pengemudi, sesekali melirik melalui kaca spion. Wajah bosnya—yang biasanya dingin, fokus, dan selalu bisa menata ekspresi—kali ini terlihat berbeda. Ada garis lelah menonjol di sudut mata, rahang yang mengeras seperti sedang menahan sesuatu. Dan benar saja. Elvano tiba-tiba mengembuskan napas panjang. “Dario,” panggilnya. Dario tersentak kecil. “Ya, Tuan?” “Berapa lama lagi sampai?” “Sekitar dua puluh menit, Tuan.” Hening la

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD