Bab 112. Berdebar

1543 Words

Malam di ruang ICU merangkak dengan sangat lambat, seolah waktu sedang menguji kesabaran Firdaus hingga ke titik nadir. Firdaus tidak tidur sedetik pun. Matanya yang merah dan sembab terus terpaku pada wajah istrinya. Ia duduk di kursi samping ranjang, menggenggam tangan Aura yang terpasang oximeter, mengusap-usap punggung tangan itu dengan jemarinya, berharap kehangatan tubuhnya bisa menjalar dan membangunkan sang istri. Setiap kali monitor jantung berbunyi sedikit lebih cepat atau lambat, jantung Firdaus ikut berdegup kencang karena panik. Ia takut. Sangat takut jika keheningan itu menjadi permanen. "Sayang," bisik Firdaus, suaranya parau karena terlalu lama menangis dan terus berdoa sejak tadi. "Bangun dong, Sayang. Udah mau pagi nih. Katanya kamu mau lihat wajah anak kita mirip s

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD