Ada Kanker dihati Aru

1103 Words
Komplek pemakaman keluarga besar Kinandayu terletak di atas bukit kecil yang menghadap langsung ke Danau Teluk. Tempat itu tidak menyeramkan. Sebaliknya, tempat itu adalah lokasi paling damai di seluruh desa. Pohon-pohon kamboja tua yang batangnya meliuk kokoh menaungi area itu, menjatuhkan bunga-bunga putih kekuningan ke atas rumput jepang yang terawat rapi. Arunaya melangkah pelan memasuki gerbang rendah berukir kayu jati. Angin bukit bertiup, menerbangkan ujung selendang brokat putih yang ia kenakan. Selendang itu membalut bahunya, menutupi dress katun sederhana berwarna biru pucat yang longgar. Aru terlihat seperti peri yang tersesat di dunia manusia, anggun, namun rapuh dan nyaris transparan. Di tangannya, ia membawa keranjang anyaman berisi bunga melati segar yang ia petik sendiri di halaman belakang rumah Nenek tadi pagi, serta sebotol air mawar. Aru berhenti sejenak. Matanya menyapu deretan nisan marmer hitam yang berjajar rapi di hadapannya. Ada lima makam di sana. Lima orang yang seharusnya menjadi dunianya, namun takdir merenggut mereka terlalu cepat. Makam pertama dan kedua di ujung kiri adalah milik orang tuanya. Raden Arinata Kinandayu dan Gayatri Selaras. Aru menatap kedua nama itu dengan perasaan hampa yang familiar. Tidak ada rasa rindu yang meledak-ledak, karena rindu membutuhkan ingatan. Aru tidak ingat hangatnya pelukan ibunya atau tingginya bahu ayahnya. Mereka meninggal dalam kecelakaan mobil saat Aru baru belajar berjalan tertatih. Memorinya tentang mereka hanyalah selembar foto usang di album keluarga. Aru berjongkok, membersihkan daun kering di atas nisan mereka dengan tangannya yang kurus. "Ayah, Ibu... Aru datang," bisiknya sopan. "Maaf Aru jarang berkunjung. Kehidupan di kota... sedikit rumit." Ia menaburkan segenggam melati, lalu beralih ke makam kecil di sebelahnya. Arunika Lintang Kinandayu. Saudara kembarnya. Belahan jiwanya yang pergi saat mereka berusia lima tahun karena demam berdarah yang terlambat ditangani. Aru tersenyum tipis, senyum yang mengandung kepedihan mendalam. Konon, anak kembar memiliki ikatan batin yang tak terputus oleh kematian. Mungkin itu sebabnya Aru selalu merasa ada separuh jiwanya yang hilang. "Hai, Nika," sapa Aru lembut, mengelus nisan kecil itu seolah mengelus kepala adiknya. "Kau pasti senang di sana, kan? Tidak perlu merasakan sakit hati, tidak perlu menunggu suami pulang, tidak perlu pura-pura kuat. Kadang Aku iri padamu." Lalu, makam Kakek. Sosok tegas yang menyusul Nika tak lama kemudian karena serangan jantung akibat kesedihan mendalam. Aru membersihkannya dengan hormat. Dan akhirnya, Aru sampai di makam terakhir. Makam yang tanahnya pun belum terlalu padat, karena baru lima tahun yang lalu digali. Lastri Kinandayu. Neneknya. Pertahanan Aru runtuh di sini. Bukan tangisan histeris, melainkan air mata yang mengalir tenang dalam diam, membasahi pipinya tanpa henti. Nenek adalah segalanya. Nenek yang membesarkannya, Nenek yang mengajarinya menjadi wanita terhormat, Nenek yang memeluknya saat Aru pertama kali menstruasi, dan Nenek yang menggenggam tangannya saat Aru akan menikah dengan Jevas. Aru menggelar selendang putihnya sedikit sebagai alas duduk. Ia duduk bersimpuh tepat di samping nisan Nenek, menyandarkan kepalanya pelan ke batu marmer yang dingin itu. Rasanya seperti bersandar di pangkuan Nenek. "Nek..." panggil Aru, suaranya bergetar. "Cucu kesayangan Nenek pulang." Angin berdesir, menggoyangkan daun kamboja seolah menjawab sapaan itu. "Nenek ingat kan, dulu Nenek bilang kalau Aru harus jadi istri yang kuat? Istri yang menerima?" Aru terkekeh pelan, namun terdengar sumbang. "Aru sudah lakukan itu, Nek. Aru sudah jadi istri yang paling sabar sedunia. Aru tidak pernah membantah Mas Jevas, Aru siapkan semua keperluannya, Aru telan semua dingin sikapnya." Aru menarik napas panjang, paru-parunya terasa sempit. "Tapi ternyata itu tidak cukup, Nek. Cinta itu... tidak bisa dipaksa. Mas Jevas punya dunianya sendiri. Dia punya keluarga adiknya yang lebih dia cintai. Dan Aru... Aru cuma orang asing yang kebetulan satu rumah dengannya." Jari telunjuk Aru menelusuri ukiran nama Nenek. "Nek, Aru lelah," bisik Aru. Pengakuan itu akhirnya keluar. "Lelah sekali. Rasanya tulang-tulang mau rontok. Setiap bangun pagi, d**a sesak bukan main. Aru capek pura-pura bahagia di depan orang-orang." Aru diam sejenak, mengumpulkan keberanian untuk mengatakan rahasia terbesarnya. Di hadapan orang mati, kejujuran terasa lebih mudah. "Aru sakit, Nek," ucapnya lirih. "Dokter bilang ada kanker di hati Aru. Stadium dua, menuju tiga. Katanya ganas." Burung gereja berkicau di kejauhan, menjadi saksi pengakuan tragis itu. "Mereka suruh Aru operasi. Suruh kemoterapi. Tapi untuk apa?" Aru tersenyum getir, menatap danau di kejauhan. "Untuk sembuh lalu kembali ke rumah dingin itu? Untuk memperpanjang umur hanya supaya bisa melihat suamiku mencintai wanita lain lebih lama lagi? Itu bukan sembuh namanya. Itu siksaan." Aru mengambil botol air mawar, menyiramkannya perlahan dari kepala nisan hingga ke kaki makam. Aroma mawar yang harum bercampur dengan bau tanah basah menciptakan wewangian kematian yang menenangkan. "Jadi, Aru putuskan untuk menyerah," lanjutnya mantap. "Aru tidak mau berobat. Aru mau pulang. Pulang ke sini, sama Nenek." Mata Aru beralih ke lahan kosong di sebelah makam Nenek. Masih ada satu petak tanah kosong di dalam pagar kompleks makam keluarga ini. Petak terakhir. Itu jatah Aru. Aru mengulurkan tangan, menyentuh rumput di tanah kosong itu. "Sebentar lagi, Nek," ucap Aru, seolah membuat janji. "Tunggu sebentar lagi ya. Mungkin sebulan, atau dua bulan. Aru akan tidur di sini, di sebelah Nenek. Nanti kita bisa ngobrol terus tanpa ada yang ganggu. Aru akan ceritakan semua resep masakan yang Aru pelajari, dan Nenek bisa peluk Aru lagi." Matahari mulai naik tinggi. Sinarnya yang terik mulai menembus celah dedaunan, jatuh menerpa wajah Aru. Tiba-tiba, dunia bergoyang. Rasa nyeri hebat yang familiar itu datang lagi. Menikam perut kanan atasnya tanpa ampun. Kali ini lebih kuat dari sebelumnya, seolah organ hatinya sedang diperas hingga hancur. "Argh..." Aru mengerang pendek, tangannya mencengkeram nisan Nenek erat-erat hingga buku jarinya memutih. Keringat dingin membanjiri tengkuknya dalam hitungan detik. Napasnya memburu. Pemandangan danau yang indah di depannya mulai berbayang, berputar, lalu menggelap di bagian tepinya. "Sakit... Nek..." rintih Aru. Ia mencoba merogoh tasnya untuk mencari obat pereda nyeri, tapi tangannya terlalu lemah. Tas itu terguling, menumpahkan isinya ke rumput. Botol obatnya menggelinding menjauh, tak terjangkau. Kepala Aru terasa sangat berat. Suara kicau burung terdengar menjauh, berganti dengan suara denging panjang yang menyakitkan di telinga. Tubuh Aru perlahan merosot. Ia tidak bisa mempertahankan posisi duduknya lagi. Gravitasi menariknya turun. "Maaf, Mas..." bisikan itu keluar tanpa sadar di detik-detik terakhir kesadarannya. Bahkan di ambang sakitnya, nama pria itulah yang ia panggil. Bruk. Tubuh kurus Arunaya ambruk ke atas tanah, tepat di atas petak kosong yang baru saja ia tunjuk. Wajahnya menempel pada rumput dingin, selendang putihnya terhampar menutupi sebagian tubuhnya seperti kain kafan yang prematur. Matanya terpejam. Napasnya pendek-pendek dan lemah. Di pemakaman sunyi itu, tidak ada yang melihat. Tidak ada Mang Tono, tidak ada Jevas, tidak ada siapapun. Hanya angin yang terus bertiup, membawa aroma melati, dan tubuh seorang istri yang tergeletak sendirian di antara nisan-nisan bisu, menunggu jemputan yang sesungguhnya. Danau Teluk berkilauan di kejauhan, tenang dan tak peduli. *** “NONAAAAAA!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD