Hari-hari berlalu seperti lembaran kalender yang dirobek paksa oleh angin kencang. Cepat, tak beraturan, dan tanpa ampun. Aula utama kediaman besar Mavendra telah berubah wajah. Ruangan seluas lapangan basket yang biasanya sunyi dan dingin itu kini dipenuhi hiruk-pikuk kesibukan. Puluhan pelayan berlalu-lalang membawa nampan perak, gulungan kain sutra, dan kotak-kotak ornamen antik. Aroma dupa cendana yang berat mulai menguar, bercampur dengan wangi ribuan bunga segar yang didatangkan langsung dari perkebunan di Lembang. Di tengah kekacauan yang terorganisir itu, Arunaya berdiri seperti konduktor orkestra yang bisu. Ia mengenakan blouse sutra hitam dan celana bahan longgar. Rambutnya digelung rapi, menampakkan leher jenjangnya yang kini tertutup plester transparan kecil di balik kerah b

