Kuas berbulu halus itu menyapu permukaan kanvas dengan gerakan lambat yang nyaris tanpa tenaga. Warna ochre bercampur dengan abu-abu, menciptakan bayangan mendung yang muram. Di ruang kaca yang sunyi itu, Arunaya tidak sedang melukis pemandangan. Ia sedang melukis isi kepalanya. "Enam bulan. Kau punya waktu enam bulan. Beri dia kesempatan, atau pergi meninggalkannya." Ucapan Abimana kemarin berdengung kembali, berputar seperti kaset rusak di telinganya. Enam bulan. Seratus delapan puluh hari. Waktu yang terasa seperti butiran pasir halus yang merembes tanpa ampun dari sela-sela jarinya. Sambil terus menggoreskan warna, Aru meraba kembali perasaannya. Ia mencoba mencari sisa-sisa bara api di dasar hatinya, meyakinkan dirinya sendiri apakah masih ada setitik kehangatan yang tersisa untuk

