Rumah Sakit? Kau Sakit?

1118 Words
Matahari pagi di kawasan elit Jakarta Selatan tidak pernah terasa hangat bagi Arunaya. Sinar itu menembus dinding kaca kamar utama, jatuh tepat di wajahnya yang masih memucat, namun tidak mampu mengusir dingin yang bersarang di tulang-tulangnya. Pukul lima pagi. Alarm alami tubuhnya membangunkan Aru sebelum alarm ponsel berbunyi. Kebiasaan. Selama tiga tahun menjadi Nyonya Mavendra, Aru telah memprogram dirinya menjadi mesin yang sempurna. Ia harus bangun lebih awal, memastikan air hangat di shower memiliki suhu yang tepat, menyeduh kopi arabica hitam tanpa gula, dan menyiapkan setelan kerja Jevas. Namun pagi ini, rutinitas itu terasa seperti mendaki gunung batu. Begitu Aru mencoba duduk, dunia di sekelilingnya berputar hebat. Rasa nyeri yang semalam menghantam perut kanannya kini kembali, lebih tajam, seolah ada pisau berkarat yang diputar perlahan di dalam sana. "Sshhh..." Aru mendesis, mencengkeram sprei sutra erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia melirik ke sisi ranjang sebelah kiri. Kosong. Bantal Jevas masih rapi, tak tersentuh. Suaminya tidur di kamar tamu semalam. Ingatan tentang Jevas yang keluar kamar karena terganggu oleh suara rintihan sakitnya membuat d**a Aru sesak. ‘Kau harus bangun, Aru. Jangan manja,’ perintahnya pada diri sendiri. Dengan napas tersengal, ia memaksakan kakinya menjejak lantai marmer. Setiap langkah adalah perjuangan. Ia berjalan menuju walk-in closet, sebuah ruangan lemari yang lebih besar dari kamar tidur orang kebanyakan, dipenuhi deretan jas mahal dan gaun desainer yang jarang ia pakai. Aru berdiri di depan deretan jas Armani milik Jevas. Tangannya gemetar saat meraih jas berwarna navy. Dug. Jantungnya seolah berhenti sesaat, diikuti rasa sakit yang menyengat hingga ke ulu hati. Keringat dingin sebesar biji jagung langsung membasahi tengkuknya. Pandangan Aru menggelap. Kakinya tak lagi mampu menopang berat badannya yang kian ringkih. Ia ambruk. Aru jatuh terduduk di atas karpet tebal di tengah ruangan lemari. Ia memeluk lututnya, membenamkan wajah di sana, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar tidak berteriak. Ia tidak boleh bersuara. Jevas benci pagi yang berisik. "Sakit... Tuhan, sakit sekali..." bisiknya parau, air matanya merembes membasahi lutut. Ia butuh waktu. Hanya lima menit untuk meredakan gelombang rasa sakit ini sebelum kembali tersenyum. Tiba-tiba, pintu walk-in closet terbuka lebar. Cahaya lampu menyala terang, menyilaukan mata Aru yang basah. Jevas berdiri di ambang pintu, handuk melilit di pinggangnya, rambut basahnya meneteskan air ke bahu tegapnya. Pria itu baru selesai mandi di kamar tamu dan masuk ke sini untuk berpakaian. Jevas berhenti langkahnya. Alis tebalnya menyatu saat melihat istrinya meringkuk di lantai di antara rak sepatu dan lemari jas. Tidak ada kepanikan di wajah pria itu. Tidak ada langkah terburu-buru untuk menolong. Jevas hanya menatap Aru dengan ekspresi yang sulit diartikan, campuran antara heran dan sedikit terganggu. Di mata Jevas, Aru terlihat sedang melamun, atau mungkin sedang meratapi nasib dramatis seperti yang sering dilakukan wanita-wanita kaya yang kurang pekerjaan. "Sedang apa kau di situ?" suara Jevas memecah hening, datar dan dingin. Aru tersentak. Adrenalin memaksanya menelan rasa sakit itu bulat-bulat. Ia mendongak, buru-buru menghapus air matanya dengan punggung tangan, lalu memaksakan sebuah senyum. Senyum yang menyedihkan. "Aku..." suara Aru bergetar. Ia berusaha berdiri, berpegangan pada rak lemari, kakinya masih goyah. "Aku... aku sedang mencari kancing mansetmu yang jatuh. Maaf." Kebohongan yang bodoh. Tapi Jevas tidak peduli untuk mengoreksinya. Jevas melangkah masuk, melewati Aru begitu saja seolah ia hanyalah patung. Pria itu mengambil kemeja putih dari gantungan. "Minggir. Kau menghalangi jalan." Aru mundur selangkah, menahan napas saat rasa nyeri kembali menyentak perutnya. "Mas mau pakai dasi yang mana hari ini? Biar aku pasangkan." "Tidak perlu," potong Jevas cepat. Ia mengancingkan kemejanya dengan gerakan efisien. "Aku bisa sendiri. Kau siapkan saja kopi. Dan pastikan kali ini tidak terlalu panas seperti kemarin." “Iya." Aru menatap punggung suaminya yang lebar. Ada dorongan kuat di dadanya untuk memeluk punggung itu, untuk bersandar sejenak dan berkata, 'Mas, tolong aku. Rasanya sakit sekali. Aku takut.' Tapi ia tahu, pelukan itu akan ditepis. Jevas tidak suka sentuhan yang tidak diundang. ** Lima belas menit kemudian, di ruang makan. Suasana hening yang mencekik kembali terjadi. Jevas duduk di ujung meja, matanya terpaku pada layar iPad yang menampilkan grafik saham, sementara tangan kanannya memegang cangkir kopi. Aru duduk di sisi kanannya, memandangi roti panggang di piringnya yang tak tersentuh. "Mas," panggil Aru pelan. Jevas tidak menoleh, jarinya menggeser layar iPad. "Hm?" Aru meremas serbet di pangkuannya. Jantungnya berdegup kencang. "Hari ini... aku izin keluar sebentar. Ada yang harus aku cek di rumah sakit." Gerakan tangan Jevas terhenti sesaat. Ia akhirnya menoleh, menatap Aru dengan alis terangkat sebelah. "Rumah sakit? Kau sakit?" Pertanyaan itu terdengar seperti tuduhan, bukan kekhawatiran. Seolah sakit adalah sebuah ketidaknyamanan yang Aru ciptakan untuk mengganggu jadwal Jevas. "Aku... belakangan ini perutku sering sakit, dan aku merasa…" Drrt. Drrt. Ponsel Jevas yang tergeletak di meja bergetar keras, memotong kalimat Aru. Nama "Hana" berkedip di layar. Wajah datar Jevas berubah seketika. Sinar matanya yang tadi redup dan dingin saat menatap Aru, kini menyala dengan kewaspadaan. Ia menyambar ponsel itu secepat kilat. "Halo? Ada apa?" Nada suaranya berubah 180 derajat. Mendesak, khawatir, dan... peduli. Aru terdiam, kalimat tentang penyakit yang sudah di ujung lidahnya tertelan kembali ke dalam kerongkongan. Ia melihat bagaimana bahu Jevas menegang saat mendengarkan suara di seberang sana. "Leo demam lagi? Berapa suhunya?" tanya Jevas cepat. Ia berdiri dari kursinya, mengabaikan kopi yang baru diminum setengah. "Sudah kau kompres? Jangan panik, aku ke sana sekarang. Jangan berikan obat sembarangan sebelum aku lihat." Jevas mematikan panggilan, lalu langsung menyambar jasnya yang tersampir di kursi. Ia berjalan cepat menuju pintu keluar, melupakan iPad-nya, melupakan sarapannya, dan melupakan istrinya yang masih duduk mematung. "Mas..." Aru mencoba memanggil, suaranya terdengar putus asa. Jevas berhenti sejenak sambil membenarkan jam tangannya, tapi tatapannya sudah tidak ada di ruangan itu. Pikirannya sudah terbang ke rumah Hana. "Leo demam tinggi, Hana sendirian dan panik," ujar Jevas cepat tanpa menatap Aru. "Aku harus ke sana. Supir akan mengantarku, kau pakai taksi saja kalau mau pergi." "Tapi Mas, aku mau bicara soal—" "Nanti saja, Aru!" sentak Jevas. Nadanya meninggi sedikit, menyiratkan ketidaksabaran. "Ini darurat. Leo butuh aku. Kau bisa mengurus urusanmu sendiri, kan? Kau bukan anak kecil." Tanpa menunggu jawaban, Jevas berbalik dan melangkah lebar keluar rumah. Pintu tertutup. Aru masih duduk di kursinya. Hening kembali menyelimuti ruang makan itu, lebih dingin dari sebelumnya. Darurat, pikir Aru getir. Anak itu demam, dan itu darurat. Sementara istrinya mungkin memiliki penyakit mematikan. Dan harus mengurus diri sendiri. "Aku bukan anak kecil, Mas," bisik Aru pada kursi kosong yang baru saja diduduki suaminya. "Tapi aku juga manusia..." Aru mengambil pisau roti di meja. Pantulan wajahnya terlihat di logam perak itu. Ia melihat setetes darah kembali menetes dari hidungnya, jatuh mengenai piring porselen putih, menodai roti panggang yang bersih dengan warna merah cerah. Aru tidak menyekanya. Ia hanya menatap tetesan darah itu dengan tatapan hampa. Ponselnya sendiri berbunyi. Pesan dari Rumah Sakit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD