Bau obat.
Itu hal pertama yang menyergap indera penciuman Arunaya saat kesadarannya perlahan kembali.
Bukan aroma lavender dari diffuser mahalnya, bukan pula aroma segar linen yang biasa ia hirup. Ini bau steril yang dingin, bercampur dengan rasa logam yang pahit di pangkal lidahnya.
Aru mengerjap pelan. Kelopak matanya terasa seberat timah. Pandangannya kabur sejenak sebelum akhirnya fokus pada langit-langit kamar yang tinggi dengan ukiran gipsum rumit.
Ia ada di kamarnya. Di atas ranjang king size miliknya. Ada selang infus menancap di punggung tangan kirinya, mengalirkan cairan bening setetes demi setetes. Tenggorokannya terasa perih, kering, dan bengkak, seolah seseorang baru saja memaksanya menelan segenggam paku berkarat.
Aru tidak ingat bagaimana ia bisa sampai di sini. Ingatan terakhirnya adalah lantai kamar mandi yang dingin, napas yang terputus, dan kegelapan yang menelan rasa sakitnya. Mungkin Bik Sumi mendobrak pintu. Atau mungkin supir. Yang jelas, Aru ragu Jevas yang menggendongnya.
"Sudah sadar?"
Suara bariton itu memecah hening. Datar. Tanpa nada khawatir sedikitpun.
Aru tidak menoleh. Ia tahu pemilik suara itu duduk di mana. Pasti di sofa single beledu di sudut kamar, tempat pria itu biasa duduk sambil mengecek ponsel sebelum tidur.
"Sudah tahu alergi, masih kau makan udang itu?"
Pertanyaan itu meluncur tajam. Bukan pertanyaan retoris, melainkan tuduhan.
Aru masih menatap langit-langit. Ia merasakan denyut nyeri di kepalanya setiap kali jantungnya berdetak. Ia ingin menjawab, 'Karena kau yang memberikannya. Karena aku tidak ingin membuatmu malu di depan mereka.'
Tapi bibir Aru terkatup rapat. Lidahnya terlalu lelah untuk berdebat. Lagipula, apa gunanya? Bagi Jevas, kebenaran hanyalah apa yang ingin dia percaya.
Terdengar suara langkah kaki mendekat. Bukan langkah terburu-buru, melainkan langkah santai yang berirama. Jevas kini berdiri di sisi ranjang. Aru bisa melihat bayangan tubuh tegap suaminya dari sudut matanya, tapi ia tetap enggan menoleh.
"Kau tahu betapa konyolnya aku terlihat tadi?" lanjut Jevas. Nada suaranya kini terdengar kesal, ada arogansi yang terusik di sana.
Aru memejamkan mata. Ah, jadi itu masalahnya.
Bukan tentang istrinya yang hampir mati tercekik anafilaksis. Bukan tentang nafasnya yang hilang. Tapi tentang citra Shankara Jevas Mavendra.
"Ibu menatapku seolah aku suami yang tidak becus," gerutu Jevas. "Dia bertanya bagaimana bisa aku memberimu udang padahal kau alergi. Hana sampai harus menenangkan Ibu yang panik karena kau pingsan di kamar mandi dan membuat acara makan malam berantakan."
Aru menarik napas dalam-dalam. Oksigen masuk ke paru-parunya dengan susah payah, menimbulkan bunyi mengi halus. Jadi, di mata Jevas, ketidaktahuannya tentang alergi Aru bukanlah kesalahannya karena tidak peduli selama tiga tahun, melainkan kesalahan Aru karena "menerima" udang itu. Aru yang salah karena tidak menolak. Aru yang salah karena pingsan. Aru yang salah karena merusak suasana.
Hati Aru, yang sudah retak oleh vonis kanker, kini hancur menjadi debu. Tidak ada lagi rasa sedih. Tidak ada lagi keinginan untuk menangis atau memohon pengertian. Yang tersisa hanyalah kehampaan yang luas dan gelap.
Perlahan, Aru membuka matanya lagi. Ia menghela napas panjang, mengeluarkan semua sisa harapan yang pernah ia miliki untuk pria ini.
"Maaf," bisik Aru.
Suaranya serak, parau, dan terdengar menyedihkan. Satu kata itu keluar begitu saja. Maaf. Kata sakti yang selalu ia ucapkan selama pernikahan ini untuk meredakan ego Jevas.
Jevas terdiam sejenak mendengar permintaan maaf itu. Mungkin dia merasa menang. Mungkin dia merasa Aru sudah mengakui kesalahannya.
"Lain kali, pakai mulutmu untuk bicara, bukan cuma untuk makan," sindir Jevas dingin. "Kalau tidak mau, bilang tidak. Jangan cari perhatian dengan cara menyakiti diri sendiri seperti ini. Kekanakan."
Cari perhatian.
Aru tersenyum miris dalam hati. Lucu sekali. Ia bahkan menyembunyikan kanker stadium duanya agar tidak dianggap mencari perhatian. Dan sekarang, hampir mati karena alergi pun dianggap drama.
Cukup.
Sudah cukup.
Aru menggerakkan tangan kanannya, mencabut paksa selang infus di punggung tangan kirinya.
Darah segar merembes keluar dari bekas tusukan jarum, menetes mengotori sprei putih bersih.
"Apa yang kau lakukan?!" seru Jevas, kali ini nadanya meninggi karena kaget. "Dokter baru saja memasangnya satu jam lalu!"
Aru tidak menjawab. Ia menekan bekas luka itu dengan ibu jarinya asal-asalan, lalu memaksakan tubuhnya untuk bangun. Dunia berputar hebat. Vertigo menyerangnya seketika. Aru terhuyung, memegangi tiang infus agar tidak jatuh. Kakinya gemetar hebat, sisa tenaga dari makan malam tadi sudah terkuras habis.
"Arunaya! Kembali tidur!" perintah Jevas. Pria itu maju selangkah, tangannya terulur seolah ingin menahan bahu Aru, tapi berhenti di udara.
Aru menepis tangan tak kasat mata itu dengan gerakan tubuhnya. Ia berdiri tegak, meski wajahnya seputih kertas mayat. Ia merapikan gaun tidurnya yang kusut, lalu mulai berjalan.
Bukan ke arah kamar mandi. Bukan ke arah Jevas.
Tapi ke arah pintu keluar.
Alis Jevas menukik tajam. "Mau ke mana kau?"
Aru terus berjalan. Langkahnya pelan, diseret, tapi pasti. Ia melewati Jevas begitu saja. Tidak ada tatapan memuja. Tidak ada pamitan. Aru melewatinya seolah Jevas adalah tiang gantungan baju.
"Aku bertanya padamu, Aru!" suara Jevas mengeras, memantul di dinding kamar. "Kau masih sakit. Jangan membuat drama lagi dengan keluyuran malam-malam."
Aru berhenti tepat di ambang pintu. Tangannya memegang pegangan pintu yang dingin.
Untuk pertama kalinya malam ini, Aru menoleh sedikit. Ia tidak melihat wajah Jevas. Ia menatap karpet di bawah kaki suaminya.
"Aku mau tidur," jawab Aru pelan, suaranya hampa tanpa emosi. "Di kamar tamu."
Hening.
Mata Jevas membelalak sedikit. "Apa?"
Sejak hari pertama pernikahan mereka, meski Jevas sering tidur di ruang kerja atau pulang pagi, Aru tidak pernah tidur di kamar lain. Aru selalu tidur di ranjang utama, menunggu di sisi tempat tidur Jevas, menjaga "tempat" suaminya tetap hangat. Itu adalah bentuk pengabdian bisu Aru yang Jevas tahu, dan diam-diam ia nikmati sebagai tanda dominasinya.
Tapi malam ini, Aru memilih pergi.
"Kenapa?" tanya Jevas, nadanya bukan lagi marah, tapi bingung. Kebingungan yang asing. "Kasur ini cukup luas. Aku tidak akan mengganggumu."
"Di sini sesak," jawab Aru lirih.
Aru tidak menjelaskan sesak apa yang ia maksud. Sesak karena alergi, atau sesak karena tidur di samping pria yang tidak mencintainya.
"Istirahatlah. Kau butuh tenaga untuk kerja besok," tambah Aru.
Tanpa menunggu balasan, Aru memutar gagang pintu, melangkah keluar, dan menutup pintu kamar utama itu perlahan.
Suara kunci pintu yang beradu terdengar sangat keras di telinga Jevas.
Jevas berdiri mematung di tengah kamar luas itu. Ia menatap pintu kayu jati yang tertutup rapat.
Tangannya masih mengepal di sisi tubuh. Ada perasaan aneh yang menjalar di dadanya. Perasaan yang tidak ia kenali. Biasanya, jika dia marah, Aru akan menangis, memohon maaf, atau berusaha menyentuh lengannya untuk berbaikan. Aru akan membuatkan teh herbal. Aru akan ada di jangkauannya.
Tapi kali ini... wanita itu berjalan pergi. Punggungnya yang kurus dan rapuh itu menjauh darinya tanpa ragu sedikitpun.
Mata Jevas beralih ke noda darah kecil di sprei putih, bekas Aru mencabut infusnya paksa. Darah itu merah menyala, kontras dengan dinginnya kamar ini.
"Dasar keras kepala," gumam Jevas pada ruangan kosong itu, berusaha mengembalikan rasa kesalnya.
Namun untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ranjang ukuran King itu terasa terlalu luas. Dan sunyi di kamar itu terasa berbeda. Bukan sunyi yang tenang, tapi sunyi yang mencekam. Sunyi yang ditinggalkan oleh seseorang yang baru saja menyerah.
Di luar kamar, di lorong yang gelap, Aru menyusuri dinding menuju kamar tamu di ujung lorong. Air matanya menetes lagi, tapi kali ini ia biarkan.
Malam ini adalah malam terakhir ia menangisi Jevas. Besok, air matanya hanya akan ia gunakan untuk meratapi nasibnya sendiri.
Aru masuk ke kamar tamu yang dingin dan jarang dipakai itu, meringkuk di bawah selimut tipis, dan memeluk perutnya yang kembali nyeri. Di keheningan itu, ia mulai menyusun rencana. Tiga permintaan. Perceraian. Dan kematian yang tenang.