Bab 216

4930 Words

“Tolongin Senja, Bang. Dia pingsan.” “Ck!” Bibir Elang berdecak kesal. Ia sempat memukul ringan kemudi sebelum akhirnya keluar dari mobil dengan wajah tegang. Udara yang lembab menyambutnya ketika ia bergegas ke sisi lain mobil, menunduk untuk memeriksa tubuh mungil Senja yang terkulai di kursi. Tanpa banyak bicara, ia mengangkat tubuh gadis itu—ringan, seperti boneka kain—dan membaringkannya di kursi belakang. Telapak tangan Elang terasa dingin saat bersentuhan dengan kulit Senja yang pucat. Helaan napasnya terdengar berat, bukan karena lelah, tapi karena kesal. “Bikin susah!” gumamnya pelan, nada suaranya rendah tapi tajam. Ia menutup pintu mobil dengan sedikit hentakan, lalu kembali ke kursi kemudi, tangannya langsung menggenggam setir dengan kuat. Tatapannya tajam ke depan, seolah j

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD