"Pegangan, Ta." "Ay, ay, siap Boskuh!" "Ewh, alay." Reta lingkarkan lengannya di pinggang Om Alan. Bodo amat. Emangnya Reta pikirin? Peduliin? Kan nggak. Suka-suka dia dong. Apalagi kalau yang bilang 'alay'-nya Om Alan, Reta mana bisa tersinggung. "Jangan ngebut, Lan!" seru sang Mama. Alan pun iyakan dengan bunyi klakson motornya. Pamitan. Areta dadah-dadah sama nenek sebelum kemudian mereka lepas landas dari sana menuju kediaman Kak Fajar. Katanya, kumpul di rumah Fajar dulu. Biar nanti berangkatnya bareng naik mobil buntung. Ehm. Sekarang Alan bonceng Areta menggunakan motor matic kesayangannya, si Gadis, itu nama motor matic-nya. Ada dua tas besar di sana, punya Alan disimpan di depan, kalau tas Reta digendong sendiri sama orangnya. Well, sebelum memutuskan untuk cap cus pagi

