"Astagfirullah, Artha udah gede ternyata. Udah paham cewek mana yang mau dimodusin." "Cie ... Artha~" Pipi Reta yang bersemu. "Baik banget sama Dedek MABA. Kiw, kiw!" Apalagi saat suwitan jenaka itu tak mempan pada Kak Artha, serius tidak digubris, lelaki itu masih kalem saja, masih fokus membenahkan rambut-rambut yang mencuat dari jilbab Areta. Betul-betul dirapikan sampai akhir. Reta tersipu-sipu. Aduh, Gustiii! Piye iki? Jantung Reta porak poranda. Jomblo mana paham! "Seorang Artha loh ini~ Artha, cui!" Manusia nomor wahid yang anti haha-hihi club dengan lawan jenisnya. Tapi sekarang, coba apa yang mereka lihat? Lelaki itu menyentuh perempuan, walau hanya sehelai rambutnya. Sepanjang sejarah mereka kuliah di sana, baru kali ini melihat Artha pegang-pegang mahasiswi. "Qaila-nya

