Hening. Desa Ghadita yang tadinya terasa gerah mendadak berubah menjadi sedingin es. Di tengah jalan setapak yang sempit itu, waktu seolah berhenti berputar. Revan dan Dika berdiri mematung, hanya terpaku pada sisik hitam legam yang berkilat tajam tertimpa cahaya matahari. Bau tanah basah dan aroma amis yang sangat menyengat menusuk lubang hidung mereka, menandakan bahwa mahluk di depan mereka ini nyata, bukan sekadar halusinasi. Dika, yang biasanya punya mulut nggak bisa diem, sekarang bener-bener kayak orang stroke mendadak. Tangannya yang gemetar hebat meraih pundak Revan, mencengkeram kain baju sahabatnya itu sampai kuku-kukunya memutih. Wajahnya yang bulat kini pucat pasi, keringat sebesar biji jagung meluncur deras dari dahi ke dagunya yang bergetar. "V-Van... V-Vannn..." bisik Dik

