Revan segera memutar kunci pintu kamarnya dari dalam dengan tangan yang masih gemetar hebat. Napasnya masih terasa berat, sisa-sisa gairah dari tubuh Vita seolah masih menempel di kulitnya. Dengan gerakan panik, Revan menyambar sprei kasurnya. Di sana, ada noda merah kecil yang masih basah—saksi bisu robeknya kesucian adiknya sendiri. Revan menggulung sprei itu dan menyembunyikannya di tumpukan baju kotor paling bawah. "Ya Allah... apa yang sudah aku lakukan," ucap Revan dalam hati, batinnya berperang antara rasa puas yang luar biasa dan ketakutan akan dosa besar. Namun, tepat saat ia hendak membersihkan sisa cairan di lantai, suhu di dalam kamar mendadak anjlok drastis. Udara menjadi dingin yang menusuk tulang, diikuti aroma bunga melati yang sangat pekat dan magis. Revan berhenti ber

