Pilar cahaya emas yang membubung dari raga Sang Kakek bukan sekadar pendaran energi; itu adalah manifestasi dari jutaan dzikir dan ribuan malam sujud yang telah mengkristal dalam ruhnya. Cahaya itu membelah langit hitam Gunung Ghadita, menciptakan lubang besar di awan mendung seolah-olah tangan Tuhan sendiri yang sedang menyingkap tirai neraka. Namun, Ayu Anarawati bukanlah jin kemarin sore. Dia adalah entitas purba yang telah meminum jutaan nafsu manusia sejak zaman kerajaan-kerajaan kuno Nusantara. Melihat seluruh pasukannya hancur menjadi abu, Ayu meraung. Wajah cantiknya yang binal kini retak-retak, menampakkan sisik hijau gelap di bawah kulitnya. "Jika kau ingin menjadi pahlawan, maka jadilah pahlawan di nerakaku, Tua Bangka! Di sini, akulah hukum, akulah pencipta, dan akulah satu-sa

