Malam di Desa Ghadita yang biasanya diselimuti keheningan hutan jati, seketika berubah menjadi kancah keributan yang memuakkan. Bau kotoran ayam Pak Supri yang menyengat seolah menyatu dengan hawa penghakiman yang dibawa oleh ratusan warga. Di tengah lingkaran cahaya senter dan obor yang menari-nari liar, Revan dan Dika meringkuk di atas tanah yang becek. Tubuh mereka yang polos, hanya tertutup sehelai karung goni bekas pakan ayam yang kasar dan gatal, menjadi tontonan utama yang membakar rasa penasaran sekaligus kebencian massa. Revan merasakan setiap saraf di tubuhnya berdenyut. Bukan hanya karena rasa malu, tapi rasa sensitif yang luar biasa di bagian kejantanannya akibat sentilan maut Dika di dimensi ghaib tadi masih menyisakan sensasi ngilu yang menusuk sampai ke tulang belakang. Di

