Tensi Meninggi

1057 Words

Alara berdiri di tengah kamar yang berantakan, matanya masih sembab dengan air mata yang belum sepenuhnya kering. Rasa sakit di dadanya terasa menyesakkan, seolah ada beban berat yang menghimpit. Namun yang lebih menyakitkan adalah tatapan Elenio yang kini berubah dingin dan penuh emosi. "Kau membentakku? Kau sudah berubah ..." bisiknya pelan, suaranya bergetar di ujung kalimat. Elenio berdiri di depannya, rahangnya mengeras, menahan emosi yang memuncak di dalam dirinya. "Aku tidak berubah! Aku hanya lelah dengan semua prasangkamu yang berlebihan. Kau bahkan tidak mau mendengarkanku!" Alara mengepalkan tangannya yang masih dipegang oleh Elenio. Dadanya naik turun menahan rasa sesak yang semakin menyiksa. "Kenapa kau tak mengerti diriku? Alina berusaha merebut dirimu. Itu yang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD