Tak Ingin Mengalah Dan Berani Memberontak

1043 Words

Ibunya yang menyadari ketegangan itu segera menarik Alara untuk duduk. “Ayo, duduklah. Kami tadi sudah makan malam bersama. Sayang sekali kau terlambat pulang. Tapi kami senang akhirnya bisa berkumpul seperti ini, kan? Mommy senang melihatmu begitu bahagia dan sibuk kuliah." 'Berkumpul?' Alara benar-benar ingin tertawa sinis. Ini bukan berkumpul. Ini jebakan yang direncanakan Elenio. Malam itu, Alara hanya duduk dalam diam. Bahkan saat ibunya dengan penuh antusias menceritakan kabar keluarga, dia hanya mengangguk sesekali. Pandangannya kosong. Setiap tatapan Alina yang tampak ramah hanya membuatnya ingin melarikan diri. Dan ketika malam semakin larut, Magda pun akhirnya membuka suara. “Kami akan menginap di sini malam ini. Kami sudah membahasnya dengan Elenio. Katanya ada banyak kama

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD