Extra Part 97: Terbongkar

1375 Words

Plak! "Mas, udah, Mas!" Lagi. Betul-betul murka. Alam yang tak pernah sekali pun main fisik, dia layangkan tamparan ke wajah putranya. Awan. Selayak pipi, matanya memerah akibat menahan tangisan. Awan tetap diam, dua kali papi menampar bolak-balik pipi kiri dan kanan. Pertama di depan keluarga Ainara, sekarang di kamarnya kala tamu sudah tak di sana. Ada Mami Rana yang justru menggantikan Awan menangis, menghadapi papi, meraih-raih tangan Alam Semesta, lalu dielus berharap dapat menenangkan. Mungkin, tak tega melihat Awan. "Udah," kata mami sambil terisak. Menggenggam lengan papi. Awan masih bungkam. Tampak jelas mata papi berapi-api, dadanya kembang-kempis penuh emosi, sedang rahang menggertak seolah kesal sekali. Menatap tajam Awan di sini. Sungguh, tak tahan lagi, air mata Aw

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD