“Abang ...” “Iya, Sayang.” Nadhief berjalan mendekat ke arah sang istri yang sejak kemarin sudah mendapatkan kontraksi palsu. Sebagai suami siaga, Nadhief tidak pernah meninggalkan Malika. Semua pekerjaan yang harus di selesaikan dia kerjakan di dalam kamar. “Mau ngemil, lapar,” rengeknya manja. “Ngemil apa, Yang?” “Roti yang kayak kemarin, boleh?” “Buatan Nala?” “Hmmm, rasanya enak. Lika suka.” “Abang ambilkan dulu ya, sepertinya di meja ruang keluarga masih ada.” Malika mengangguk. Dia merasa sangat beruntung memiliki suami penyabar seperti Nadhief. setelah liburan ke rumah mertuanya selesai, Malika sudah tidak di perbolehkan melakukan perjalanan jauh oleh Arina. Ibu Hamil itu setiap harinya menghabiskan waktu di rumah dan sesekali keluar jalan-jalan di sekitaran taman komplek.

