Waktu terus merangkak meninggalkan siang. Jarum jam tepat menyentuh pukul dua saat Ibra kembali menerima pesan dari nomor yang sama. Mobil sport merah yang dikemudikannya terus melaju menuju titik tujuan. Sengaja mereka mengikuti alur permainan lawan, meski sebenarnya kunci kemenangan sudah berada di tangan. Kalau dengan satu tembakan sudah bisa mematikan musuh, kenapa harus berbelit-belit? Karena terkadang dibutuhkan sedikit drama untuk membuat mereka menunjukkan wajah aslinya. Sam yang duduk di bangku penumpang tampak begitu gusar. Beberapa kali dia menghela nafas sambil sesekali melihat foto anak-anaknya di layar ponselnya. "Ibra ..." "Ya ..." "Bolehkah aku minta tolong sekali lagi padamu?" ucapnya melirik Ibra setengah takut. "Apa?" "Seandainya nanti terjadi apa-apa denganku, to

