Ibra kelabakan terbangun tanpa Freya di sampingnya. Dia bahkan sampai terdiam beberapa menit untuk memastikan yang dipeluknya saat tidur tadi benar-benar istrinya, bukan cuma halusinasi. Tidak, dia sangat yakin itu memang Freya. Matanya mengerjap, kepalanya masih terasa pusing meski sudah untuk tidur sebentar. Tatapannya tertuju pada jam duduk di meja kecil sampingnya. Jadwal meeting bahkan sudah telat satu jam lebih. Iyas benar-benar membiarkannya istirahat tanpa berani mengusiknya. "Yang ... Frey ..." Dia tersenyum lega melihat istrinya muncul dari balik pintu kamar yang dibuka dari luar. Freya melangkah mendekat dan duduk di tepi tempat tidur, membiarkan Ibra yang masih tiduran berpindah ke pahanya sambil memeluk pinggangnya erat. "Abang sakit? Mukanya pucat banget. Iyas bilang Aba

