Bab 14

1015 Words
BAB 14: Rumah yang Terlalu Sunyi Pagi itu terasa berbeda. Bukan karena cahaya matahari yang merayap masuk melalui jendela apartemen Ressa lebih terang dari biasanya, melainkan karena atmosfer di dalam rumah itu mendadak terasa... terlalu lapang. Ressa berdiri di dapur dengan secangkir kopi di tangan. Uap tipis naik dari permukaan porselen itu, namun ia belum juga menyeruputnya. Pikirannya terlalu bising. Dari ruang tamu terdengar suara Papa dan Tante Ratna yang sedang berbincang. "Jadi kita berangkat lusa pagi," ujar Papa sambil menutup laptopnya. "Papa harus ke Singapura lebih dulu untuk finalisasi proyek sebelum cuti panjang dimulai." Ratna mengangguk anggun. Ia duduk dengan kaki disilangkan, mengenakan gaun rumah berwarna krem yang sederhana namun tetap memancarkan aura elegan. "Bram juga bilang kita bisa sekalian melihat venue untuk acara kecil itu," sahut Ratna dengan senyum tipis yang penuh arti. Ressa menegang. Acara kecil itu. Sebuah cara halus untuk menyebut pernikahan yang akan mengubah status mereka semua. Ia menarik napas perlahan, lalu berjalan menuju ruang tamu. "Pa, ini kopinya." Ucap Ressa sambil menyodorkan segelas kopi. "Terima kasih, Sayang." Papa menerima cangkir itu dengan senyum hangat—senyum yang membuat Ressa tahu satu hal dengan jelas. Ayahnya benar-benar bahagia. Tatapan Ressa sekilas menangkap sosok Regin yang bersandar di dinding dekat balkon. Pria itu memegang ponsel, namun layar di tangannya tampak mati. Tatapannya kosong, lalu sesekali meluncur ke arah Ressa. Ressa segera memalingkan wajah. Tiba-tiba ruangan terasa kekurangan udara. Papa berdeham pelan. "Ada satu hal lagi yang ingin Papa sampaikan," katanya dengan nada lebih serius. "Ini soal Regin." Ratna langsung menoleh pada putranya. Regin tidak bergerak. Namun rahangnya sedikit mengeras. "Regin masih kuliah di Jakarta," lanjut Papa. "Dan Papa rasa memaksanya pindah ke Singapura saat semester sedang berjalan bukan ide yang bijak." Ia berhenti sebentar, lalu menatap Regin dan Ressa secara bergantian. "Jadi Papa memutuskan... Regin tetap di sini." Jantung Ressa berdetak lebih keras. Di sini? Berarti... "Papa percaya kalian berdua sudah dewasa," lanjut Papa dengan tenang. "Papa hanya minta satu hal." Tatapannya bergantian antara mereka berdua. "Tolong jaga satu sama lain." Kalimat itu terdengar sederhana. Bagi Papa, mungkin itu hanya bentuk kepercayaan. Namun bagi Ressa, rasanya seperti vonis. Jaga satu sama lain. Kalau saja Papa tahu betapa berbahayanya kalimat itu. Sore harinya, sebelum keberangkatan, Ratna mendatangi kamar Regin. Ia menutup pintu dengan pelan, namun cukup tegas. Ekspresi genit yang biasa ia tampilkan di depan Bram kini menghilang. Digantikan oleh tatapan tajam seorang ibu yang sedang mengukur anaknya sendiri. "Regin." Regin yang sedang merapikan pakaian di lemari menoleh malas. "Apa, Mah? Mau titip belanjaan lagi?" "Jangan bercanda." Suara Ratna rendah, namun keras. Ia melangkah mendekat hingga berdiri tepat di depan putranya. "Mamah tahu apa yang ada di kepalamu." Regin tidak langsung menjawab. "Mama harap, pengakuan mu tentang perasaanmu terhadap Ressa, tidak serius." "Ah, sayangnya aku serius ma!" "Regin!!" Bentak Ratna. Tangan Regin berhenti di atas tumpukan baju. "Buang perasaan konyolmu itu, Gin," lanjut Ratna pelan namun penuh tekanan. "Bram adalah tiket Mamah menuju kehidupan yang lebih baik." Ia menunjuk d**a Regin dengan telunjuknya. "Kalau kamu berani macam-macam pada Ressa dan merusak semuanya... Mamah tidak akan segan-segan mengirimmu sejauh mungkin." Regin mengangkat alisnya. "Ancaman?" "Peringatan." Ratna menatapnya tanpa berkedip. "Jaga jarakmu. Dia akan menjadi kakakmu. Titik." Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Lalu Regin terkekeh pelan. "Mamah takut rencananya gagal?" Ratna menyipitkan mata. "Mamah hanya realistis." Ia merapikan lengan bajunya sendiri dengan santai. "Mamah mendapatkan Bram." Tatapannya kembali tajam. "Dan kamu mendapatkan fasilitas hidupnya." Ia mendekat sedikit lagi. "Jangan rusak semuanya hanya karena obsesi pada wanita yang bahkan terlalu pintar untukmu." "Sudah. Cukup ya! Mamah tidak lagi ingin mendengar bantahan. Turuti mamah kalau kamu tidak ingin Jadi Regin Kundang!!" "Maaah!" Jebret!!! Ratna menutup pintu kamar. *** Bandara Soekarno-Hatta sore itu dipenuhi suara koper yang bergeser dan pengumuman penerbangan dari pengeras suara. Papa terlihat lebih ringan dari biasanya. Wajahnya hampir bersinar. Sudah lama sekali Ressa tidak melihat ayahnya sebahagia ini. Ratna berdiri di sampingnya dengan kacamata hitam yang diselipkan di rambut. Penampilannya seperti seorang nyonya besar yang sudah terbiasa memegang kendali. "Papa titip Ressa ya, Gin," ujar Papa sambil menepuk bahu Regin. Regin mengangguk. "Iya, Om." Tatapannya meluncur ke arah Ressa. "Tentu saja." Ada sesuatu di dalam tatapan itu yang membuat Ressa ingin segera berpaling. Ratna kemudian mendekati Ressa. Ia meraih kedua tangan Ressa dengan hangat. "Res." Ressa menatapnya. "Kamu wanita yang pintar." Ressa berkedip. "Apa maksud Tante?" Ratna tersenyum tipis. Sangat tipis. "Artinya... kamu pasti tahu di mana batasnya." Ia memberi tekanan lembut pada tangan Ressa. "Jangan sampai melampaui apa yang seharusnya." Jantung Ressa berdetak lebih cepat. Ia tidak menjawab. Beberapa menit kemudian, Papa dan Ratna berjalan menuju pintu imigrasi. Bram melambaikan tangan. Ressa membalas dengan senyum yang terasa berat di wajahnya. Sampai akhirnya sosok mereka menghilang di balik pintu. Perjalanan pulang terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Jakarta tetap bergerak seperti biasa. Lampu lalu lintas berubah warna. Motor berlalu-lalang. Orang-orang berjalan di trotoar. Namun di dalam taksi yang mereka tumpangi, waktu seolah berhenti. Regin duduk di sebelah Ressa. Tidak terlalu dekat. Namun juga tidak cukup jauh. Keheningan di antara mereka bukan lagi canggung. Lebih seperti sesuatu yang sedang menunggu untuk meledak. Begitu mereka sampai di apartemen, suasana rumah terasa berbeda. Tidak ada suara Papa dari ruang kerja. Tidak ada tawa Ratna dari dapur. Hanya suara AC yang berdengung pelan. Ressa meletakkan tasnya di meja. "Aku mandi dulu." Ia berjalan cepat menuju kamar. Namun sebelum pintu sempat tertutup, sebuah tangan menahannya. "Res." Suara pria itu rendah, hampir seperti bisikan. Ressa menghela napas. "Apa lagi, Gin? Aku capek." Regin tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri di sana, menahan pintu dengan satu tangan. "Kenapa kamu terus menghindar?" "Aku tidak menghindar." "Kamu bahkan tidak bisa menatapku." Ressa akhirnya menoleh. "Karena kita harus berhenti, Regin!" Suaranya sedikit meninggi. "Kamu dengar sendiri kata Tante Ratna tadi. Kita harus tahu batas." Regin tertawa pelan. "Batas itu hanya ada kalau mereka sudah menikah." Ia melangkah satu langkah lebih dekat. "Tapi sekarang?" Jarak mereka hanya beberapa inci. "Mereka tidak ada di sini." Tatapannya mengunci wajah Ressa. "Tidak ada yang mengawasi." Suara Regin turun menjadi bisikan. "Tidak ada batas yang terlihat." Ressa menahan napas. Ia segera mendorong pintu dan menguncinya dari dalam. Klik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD