Bab 3

1070 Words
Waktu seolah melambat di ruang tamu yang pengap itu. Aroma sisa soda yang tumpah di lantai bercampur dengan aroma tubuh khas orang bangun tidur yang hangat dan intim. Bibir mereka masih bertautan, sebuah persinggungan yang seharusnya menjadi kecelakaan memalukan, namun entah kenapa terasa seperti sebuah pengakuan yang tertunda. Jantung Ressa berdegup begitu kencang hingga ia merasa tulang rusuknya akan retak. Ia bisa merasakan tekstur bibir Regin yang sedikit kering namun menuntut. Ini bukan ciuman dramatis seperti di film-film; ini adalah tabrakan mentah yang penuh keterkejutan. Satu detik. Dua detik. Ressa seharusnya segera menarik diri. Logika HRD-nya meneriakkan kata bahaya berulang kali. Namun, tangan Regin yang besar masih melingkar di pinggangnya, tidak mencengkeram kuat, namun cukup posesif untuk membuat Ressa merasa terkunci. Jemari pria itu menekan lembut di atas kain satin piyamanya, menciptakan sensasi panas yang menjalar hingga ke tulang belakang Ressa. Perlahan, Regin membuka matanya sedikit. Manik mata gelap itu menatap langsung ke dalam mata Ressa yang membelalak. Bukannya kaget, tatapan Regin justru terlihat... tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja "diserang" secara tidak sengaja oleh kakak tingkatnya. Ressa akhirnya tersadar. Dengan tenaga yang tersisa dari sisa-sisa harga dirinya, ia menyentakkan tubuhnya ke belakang. "A-astaga!" Ressa terhuyung bangun, hampir terpeleset lagi jika ia tidak segera berpegangan pada pinggiran meja. Wajahnya kini tidak lagi merah padam, melainkan sudah seperti terbakar. "Regin! Kamu... kamu kenapa tidak bangun?!" Regin perlahan mengubah posisinya menjadi duduk di sofa. Rambutnya berantakan, dan wajahnya masih menunjukkan sisa kantuk, namun matanya sangat tajam. Ia mengusap bibir bawahnya dengan ibu jari—sebuah gerakan lambat yang sengaja dilakukan untuk membuat Ressa semakin salah tingkah. "Aku yang harusnya tanya, Mbak," suara Regin serak, khas suara pria yang baru bangun tidur. "Pagi-pagi begini Mbak sudah melakukan serangan fajar? Kalau mau cium, bilang saja. Tidak perlu pakai trik lantai licin." "Trik?! Itu murni kecelakaan!" teriak Ressa, suaranya naik satu oktav karena panik. Ia menunjuk botol-botol di lantai dengan jari yang gemetar. "Ini semua gara-gara kamu! Lihat sampah ini! Kamu pikir ini hotel? Kamu pikir aku pembantumu?!" Regin berdiri. Tubuhnya yang menjulang membuat Ressa harus mendongak lagi, sebuah posisi yang selalu membuatnya merasa tidak diuntungkan. Regin melangkah maju satu tindak, membuat Ressa secara insting mundur satu langkah. "Mbak Ressa," panggil Regin lembut, tapi penuh penekanan. "Aku minta maaf kalau rumahnya kotor. Aku akan bereskan sekarang." Ressa terdiam. Ia mengira Regin akan membalas dengan kata-kata provokatif lagi, tapi permintaan maaf yang tenang itu justru membuatnya merasa seperti orang yang sedang mengamuk tanpa alasan. "Tapi soal yang tadi..." Regin menggantung kalimatnya. Ia menunduk, mendekatkan wajahnya ke telinga Ressa yang tertutup rambut acak-acakan. "Itu ciuman pertamaku. Mbak harus tanggung jawab karena sudah mencuri sesuatu yang berharga dari 'adik kecilmu' ini." "Regin, berhenti bercanda!" Ressa mendorong d**a Regin, tapi kali ini tangannya terasa lemas. "Itu kecelakaan. Tidak dihitung. Lupakan!" "Lupa?" Regin terkekeh rendah, suara baritonnya bergetar di telinga Ressa. "Aku punya ingatan yang sangat tajam, Mbak. Terutama untuk hal-hal yang melibatkan kamu. Mbak boleh bilang itu kecelakaan, tapi jantung Mbak yang berdetak di dadaku tadi... tidak bilang begitu." Regin menjauh, lalu dengan santai memunguti botol-botol soda yang berserakan di lantai, seolah-olah adegan panas tadi hanyalah selingan minum kopi pagi. Ia berjalan menuju dapur tanpa menoleh lagi, meninggalkan Ressa yang masih berdiri mematung di tengah ruangan. Ressa menyentuh bibirnya sendiri. Masih ada sisa rasa dingin dari soda dan kehangatan dari bibir Regin di sana. Ia merasa seolah-olah benteng pertahanan yang ia bangun selama bertahun-tahun baru saja retak oleh seorang mahasiswa yg baru berumur 19 tahun. "Sialan," umpat Ressa lirih. Ia segera masuk kembali ke kamarnya dan mengunci pintu. Di dalam kamar, Ressa menyandarkan punggungnya di pintu. Napasnya masih pendek-pendek. Ia menatap cermin di lemari pakaiannya, melihat seorang wanita karir yang biasanya berwibawa kini tampak seperti remaja yang baru saja merasakan cinta monyet. Slow down, Ressa. Tarik napas, perintahnya pada diri sendiri. Dia hanya bocah. Dia hanya anak titipan. Ini hanya hormon. Namun, Ressa tahu, ia sedang berbohong pada dirinya sendiri. Regin bukan lagi bocah yang bisa ia atur dengan ancaman. Regin adalah api, dan jika Ressa terus bermain-main seperti ini, dia sendiri yang akan hangus terbakar. Sementara di luar, di balik pintu dapur, Regin berdiri menatap wastafel. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang ternyata tidak sesantai penampilannya. Ia menatap pantulan dirinya di jendela dapur yang buram. *** Pagi itu, udara di gedung perkantoran daerah Sudirman terasa lebih mencekam dari biasanya bagi Ressa Vanilla. Suara denting lift yang terbuka di lantai 15—lantai divisi HRD—biasanya menjadi tanda dimulainya otoritas Ressa atas ratusan karyawan. Namun hari ini, setiap bunyi logam yang beradu justru mengingatkannya pada suara botol soda yang menggelinding di lantai apartemennya. Ressa melangkah keluar lift dengan dagu terangkat, mencoba mempertahankan postur alpha female yang menjadi ciri khasnya. Sepatu hak tingginya berbunyi tuk, tuk, tuk dengan ritme yang sangat teratur di atas lantai marmer. Di balik kacamata hitam yang belum ia lepas, matanya sebenarnya sedikit bengkak karena kurang tidur. "Pagi, Mbak Ressa," sapa Tari, sekretaris divisi, dengan senyum ramah yang dibalas Ressa hanya dengan anggukan kaku. "Jadwal pagi ini, Tari?" tanya Ressa sambil terus berjalan menuju ruangannya. "Ada final interview untuk posisi Senior Supervisor operasional jam sepuluh nanti, Mbak. Berkasnya sudah ada di meja Mbak. Oh, dan ada kiriman bunga dari—" "Buang saja," potong Ressa cepat. Ia tahu itu pasti dari Seno. Mantan kekasihnya yang satu itu tidak pernah tahu kapan harus berhenti, persis seperti penyakit flu yang datang di waktu yang salah. Begitu pintu ruangannya tertutup, Ressa menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya. Ia melepas kacamata hitamnya dan menghela napas panjang. Matanya tertuju pada cermin kecil di sudut meja. Ia teringat kejadian dua jam lalu—saat ia berlari keluar apartemen tanpa berani menatap Regin yang sedang mencuci piring di dapur. Pria itu sempat berteriak pelan, "Hati-hati di jalan, Mbak. Jangan sampai terpeleset lagi di kantor," dengan nada yang sangat menyebalkan. "Sialan kamu, Regin," gumam Ressa sambil memijat pelipisnya. Ia mencoba memfokuskan pikirannya pada tumpukan berkas di meja. Ia adalah HRD yang disegani karena ketajamannya menilai orang. Ia harus profesional. Namun, saat ia membuka map biru berisi berkas kandidat yang akan diwawancarainya jam sepuluh nanti, jantungnya seolah berhenti berdetak. Di sana, di lembar pertama, tertera sebuah foto yang sangat ia kenal. Nama: Seno Adiguna. Ressa melempar map itu ke atas meja seolah benda itu baru saja menyetrumnya. "Apa-apaan ini? Kenapa dia bisa lolos sampai tahap akhir tanpa aku tahu?" Ia segera menekan tombol interkom. "Tari! Masuk ke ruangan saya sekarang!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD