Bab 5

949 Words
Ressa bisa mendengar suara bising di latar belakang Regin, seolah pria itu sedang berjalan terburu-buru. "Mbak jangan dekat-dekat sama dia. Aku nggak suka. Kalau dia macam-macam, bilang padaku. Aku bisa saja datang ke kantor Mbak sekarang juga dan membuat keributan." "Jangan berani-berani, Regin Ang! Kamu itu mahasiswa, tugasmu belajar!" "Aku belajar, Mbak. Belajar cara melindungi apa yang sudah jadi milikku," ucap Regin sebelum mematikan sambungan telepon sepihak. Ressa menatap layar ponselnya yang sudah gelap. Ia merasa merinding. Kata-kata Regin barusan tidak terdengar seperti gertakan anak kecil. Itu terdengar seperti ancaman dari seorang pria yang siap menyerang siapa saja yang menyentuh hartanya. "Siapa itu? Pacar baru?" tanya Seno dengan nada menyelidik. Ressa memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia berdiri, menatap Seno dengan tatapan paling dingin yang ia miliki. "Dia bukan sekadar pacar, Seno. Dia adalah seseorang yang jauh lebih berani dan jauh lebih 'pria' daripada kamu. Jadi, berhenti menggangguku sebelum dia benar-benar datang ke sini dan menghancurkan harga dirimu yang tidak seberapa itu." Ressa melangkah pergi meninggalkan Seno yang terpaku di kursinya. Namun, di dalam hatinya, Ressa justru gemetar. Ia baru saja menggunakan Regin sebagai perisai, tapi ia sadar, perisai itu sendiri adalah pedang bermata dua yang bisa menusuknya kapan saja. Satu hal yang pasti: hidup Ressa Vanilla sekarang bukan lagi soal mengatur orang lain, tapi soal bagaimana ia mengatur detak jantungnya sendiri yang terus-menerus diguncang oleh keberadaan Regin Ang. Ressa menekan tombol lift dengan jari yang kaku. Pukul setengah enam sore, dan koridor kantor mulai terasa seperti lorong hantu yang dingin. Di pantulan pintu lift yang mengilap, ia melihat bayangannya sendiri—seorang wanita karier yang tampak tangguh, namun dengan binar mata yang rapuh karena digempur habis-habisan oleh dua pria dalam satu hari. Begitu pintu lift terbuka di lantai dasar, Ressa menarik napas dalam, bersiap menghadapi kegilaan Jakarta. Namun, langkahnya terhenti tepat di ambang pintu keluar. Regin ada di sana. Bukan sekadar menunggu, pria itu berdiri tepat di tengah jalan keluar, bersandar pada pilar beton dengan gaya yang sangat intimidatif namun tenang. Jaket hitamnya lembap terkena gerimis, dan rambutnya yang berantakan memberikan kesan liar yang tidak pada tempatnya di gedung perkantoran mewah ini. Ia memegang dua gelas kopi. Saat melihat Ressa, matanya tidak tersenyum—ia justru memindai Ressa dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah sedang mencari jejak pria lain di sana. "Lama sekali, Res," suaranya rendah, nyaris tenggelam oleh suara bising jalanan, tapi tetap terdengar tajam di telinga Ressa. "Kamu... benar-benar datang?" Ressa mencoba menjaga nada suaranya agar tetap datar, meski jantungnya mulai berulah lagi. Regin melangkah mendekat, memangkas jarak hingga Ressa bisa mencium aroma hujan dan sandalwood dari tubuhnya. Ia menyodorkan satu gelas kopi tanpa melepaskan tatapannya. "Kopi favoritmu. Pahit, tanpa gula. Sama seperti suasana hatimu sekarang, kan?" Ressa menerima gelas itu, ujung jemari mereka bersentuhan singkat—sebuah sengatan listrik yang membuat Ressa nyaris menjatuhkan kopinya. "Aku bisa pulang sendiri, Regin. Aku bukan anak kecil," protes Ressa lemah. "Memang bukan," bisik Regin, mencondongkan tubuhnya ke arah telinga Ressa. "Tapi pria di kantin tadi sepertinya lupa kalau Mbak sudah ada yang punya. Aku hanya ingin mengingatkannya kalau aku melihatnya lagi." Ressa merinding. Regin tidak sedang bercanda. Di dalam mobil, keheningan terasa begitu berat hingga suara AC pun terdengar seperti dengungan lebah yang mengganggu. Regin duduk di kursi penumpang, namun energinya seolah memenuhi seluruh kabin mobil. "Siapa dia?" tanya Regin tiba-tiba saat mereka terjebak macet di Sudirman. "Mantan. Dan itu tidak penting," jawab Ressa, tangannya mencengkeram kemudi lebih erat. Regin tertawa, tipe tawa pendek yang tidak terdengar lucu. "Bagi Mbak mungkin tidak penting. Tapi bagi dia, Mbak masih terlihat seperti 'target'. Cara dia menatap Mbak tadi... aku tidak suka." "Regin, cukup. Kamu bukan siapa-siapaku." Regin bergeser di kursinya, tubuhnya yang besar seolah mengurung Ressa di sudut kursi pengemudi. "Belum, Res. Belum. Tapi setelah ciuman pagi tadi, Mbak masih berani bilang aku bukan siapa-siapa?" Ressa menginjak rem dengan mendadak karena lampu merah. Tubuh mereka terdorong ke depan. Dalam kegelapan kabin yang hanya diterangi lampu jalan, mata Regin berkilat gelap. "Jangan bahas itu di sini," desis Ressa. "Kenapa? Takut Mbak akan kehilangan kendali lagi?" Regin meraih tangan Ressa yang ada di tuas gigi, menutupinya dengan telapak tangannya yang besar dan hangat. "Tubuhmu tidak bisa bohong, Ressa. Kamu gemetar setiap kali aku dekat." Ressa menarik tangannya dengan sentakan kecil, kembali mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tidak menjawab. Ia tidak bisa menjawab. Sisa perjalanan itu dihabiskan dalam keheningan yang jauh lebih bising daripada suara klakson di luar sana. Regin tidak lagi bicara, tapi ia juga tidak menjauh; ia tetap duduk dengan posisi condong ke arah Ressa, seolah sedang menghirup setiap inci kegelisahan yang terpancar dari wanita itu. Setiap kali Ressa harus memindahkan tuas gigi, ia harus berjuang ekstra keras agar kulitnya tidak bersentuhan dengan kulit Regin. Kehadiran pria itu memenuhi setiap sudut kabin mobil yang sempit, membuat oksigen terasa tipis. Saat mobil akhirnya terparkir di basement, Ressa praktis melompat keluar bahkan sebelum mesin mobil benar-benar tenang. Ia berjalan cepat menuju lift, namun langkah panjang Regin dengan mudah menyusulnya. Di dalam lift yang berdinding cermin, Ressa bisa melihat pantulan mereka—ia yang tampak kecil dan kalut, dan Regin yang berdiri tepat di belakangnya, menatap tengkuknya dengan pandangan yang sulit diartikan. Pintu apartemen terbuka dengan bunyi klik yang tajam. Ruang tamu sudah bersih sempurna—Regin menepati janjinya. Botol-botol minuman yang tadi pagi berserakan sudah lenyap, karpet pun sudah kembali pada tempatnya. Namun, alih-alih merasa lega, Ressa justru merasa apartemennya baru saja kehilangan status sebagai tempat perlindungan. Keberadaan Regin yang dominan di sana justru membuat ruangan itu terasa jauh lebih sempit dari biasanya. Seolah-olah setiap perabot di rumah itu sekarang memiliki aroma sandalwood milik pria itu. Ressa meletakkan tasnya di meja makan dengan gerakan kaku, namun sebelum ia sempat berbalik...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD