Bab 20

1143 Words
BAB 20: Tanda yang Berteriak Malam di Singapura tidak memberikan ketenangan yang Ressa harapkan. Kamar hotel bintang lima di kawasan Sentosa itu terasa seperti sangkar emas yang pengap. Ressa berdiri di depan cermin besar kamar mandi, menyalakan lampu dengan pencahayaan maksimal. Jantungnya mencelos saat ia menyibakkan rambut panjangnya ke samping. Di sana, tepat di bawah garis rahang, sebuah noda kemerahan yang pekat—hampir keunguan—tercetak jelas. Hasil dari hisapan penuh amarah dan posesif yang dilakukan Regin di balik perahu Pantai Siloso tadi. "Gila... dia benar-benar gila," bisik Ressa dengan tangan gemetar. Ia mencoba menggosoknya dengan air dingin, namun noda itu justru tampak semakin kontras dengan kulit putihnya. Tanda itu seolah berteriak, menceritakan pengkhianatan yang baru saja terjadi. Ressa segera mengambil tas kosmetiknya, membongkar isinya dengan kalap, mencari concealer dengan tingkat tutupan paling tinggi. Tok! Tok! Tok! Ressa tersentak, hampir menjatuhkan botol kacanya. "Ressa? Kamu sudah tidur?" Itu suara Papa dari balik pintu kamar. "Be-belum, Pa! Baru mau mandi!" jawab Ressa secepat mungkin sambil menempelkan telapak tangannya di leher. "Besok kita sarapan jam delapan ya. Tante Ratna ingin kita mencoba buffet di restoran bawah sebelum Papa pergi ke kantor imigrasi. Jangan telat ya, Sayang." "Iya, Pa." Suara langkah kaki Papa menjauh. Ressa merosot duduk di lantai kamar mandi yang dingin. Besok pagi adalah ujian yang sesungguhnya. Di bawah lampu restoran hotel yang terang benderang, dengan ketajaman mata Tante Ratna yang setara dengan elang, tanda ini adalah bom waktu. Pukul 07.45 pagi. Ressa menghabiskan waktu hampir satu jam hanya untuk urusan leher. Ia telah menumpuk tiga lapis concealer dan bedak tabur, namun bayangan noda itu masih terlihat samar jika dilihat dari jarak dekat. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengurai rambutnya ke depan, menutupi sisi kanan lehernya sepenuhnya, dan mengenakan dress dengan kerah halter-neck yang cukup tinggi. Saat ia sampai di restoran, Papa, Tante Ratna, Regin, dan Tiara sudah duduk melingkar di sebuah meja bundar dekat jendela besar. "Pagi, Ressa! Wah, rapi sekali," sapa Papa Bram dengan senyum lebar. Ressa duduk di satu-satunya kursi yang tersisa—tepat di seberang Regin dan di samping Tante Ratna. Regin tampak segar dengan kemeja linen berwarna biru muda. Ia sedang mengoleskan selai ke roti bakarnya dengan gerakan tenang, seolah ia tidak baru saja menandai "wilayahnya" pada wanita di depannya semalam. Tiara duduk di sampingnya, mengenakan sundress tanpa lengan yang manis, terlihat sangat bahagia. "Mbak Ressa, kenapa rambutnya digerai begitu? Singapura sedang panas-panasnya lho hari ini," ujar Tiara polos sambil menyeka sudut bibirnya. Ressa menegang. "Oh... ini, aku merasa agak kurang enak badan. Leherku terasa kaku, mungkin salah posisi tidur, jadi aku tutupi agar tidak kena angin AC." Tante Ratna, yang sejak tadi sedang memotong buah pepaya, menghentikan gerakannya. Ia menatap Ressa dengan tatapan menyelidik yang membuat Ressa ingin menghilang dari muka bumi. "Salah tidur? Atau ada alasan lain, Res?" suara Ratna terdengar manis, namun ada nada sarkasme yang terselip di sana. "Sini, Tante lihat. Tante punya balsem herbal yang sangat ampuh untuk leher kaku." "Nggak usah, Tante. Nggak apa-apa, benar," tolak Ressa cepat, tangannya refleks merapikan rambutnya lebih rapat ke arah leher. Regin mendongak. Matanya bertemu dengan mata Ressa. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua. Senyum yang penuh kemenangan. "Iya, Mah. Kasihan Mbak Ressa. Mungkin dia butuh istirahat lebih banyak. Kemarin di pantai dia kan tidak banyak bergerak, cuma melamun di daybed," ujar Regin dengan nada mengejek yang sangat halus. Tiara terkekeh. "Iya, Mbak Ressa kemarin kelihatan capek banget. Beda sama Regin, dia kuat banget main paddleboard-nya." Tante Ratna tidak tertawa. Instingnya sebagai wanita yang pernah hidup di jalanan dan penuh tipu daya mulai bergejolak. Ia memperhatikan bagaimana Ressa terus-menerus memegang sisi kanan lehernya dan bagaimana putranya, Regin, tampak begitu puas pagi ini. "Oh ya, Bram," Tante Ratna beralih pada Papa. "Nanti setelah dari kantor imigrasi, kita mampir ke toko perhiasan ya? Aku ingin melihat cincin yang kita bicarakan kemarin." "Tentu, Ratna. Apa pun untukmu," jawab Papa sambil mengelus tangan Ratna. "Ressa dan Regin, kalian temani kami ya. Kita beli sekalian untuk kalian. Hadiah keluarga baru," lanjut Ratna, matanya kembali mengunci Ressa. "Maaf, Tante, sepertinya Ressa mau di hotel saja. Kepala Ressa benar-benar pusing," jawab Ressa. Ia benar-benar ingin menghindari interaksi lebih jauh. "Kalau Mbak Ressa di hotel, aku juga di hotel saja deh, Om," sela Tiara cepat. "Aku mau renang lagi di rooftop." "Ide bagus," Regin menyambar. "Aku akan menemani Tiara renang. Kasihan kalau dia sendirian." Ressa merasakan dadanya sesak lagi. Regin benar-benar memainkan perannya dengan sangat kejam. Ia seolah ingin menunjukkan bahwa ia bisa berpindah dari Ressa ke Tiara dalam sekejap mata, membiarkan Ressa terbakar dalam cemburu sementara ia sendiri menikmati perhatian dari gadis lain. Setelah Papa dan Tante Ratna pergi, suasana di hotel menjadi semakin canggung. Tiara benar-benar pergi ke kolam renang rooftop, meninggalkan Ressa dan Regin di koridor lantai kamar mereka. Ressa baru saja hendak membuka pintu kamarnya ketika sebuah tangan menahan pintu itu. "Kenapa lari lagi, Ress?" bisik Regin di belakang telinganya. Ressa berbalik dengan amarah yang meledak. "Cukup, Regin! Kamu mau apa lagi? Kamu sudah puas mempermalukanku di depan Tiara dan orang tua kita?" Regin menyeringai, ia melirik leher Ressa yang tertutup rambut. "Bagaimana kabarnya? Masih merah?" "Kamu b******n, Regin! Tante Ratna mulai curiga. Kamu mau kita semua hancur?!" Regin melangkah maju, memaksa Ressa masuk ke dalam kamarnya sendiri dan menutup pintu dengan bantingan pelan. Ia menyudutkan Ressa ke dinding di samping meja rias. "Aku tidak peduli kalau kita hancur, Ress. Aku sudah bilang, aku berani mengambil risiko. Kamu yang penakut," Regin meraih dagu Ressa, memaksanya menatap mata gelap itu. "Lihat dirimu. Kamu gemetar setiap kali aku dekat. Kamu cemburu setengah mati melihatku dengan Tiara. Sampai kapan kamu mau menyiksa dirimu sendiri dengan topeng 'anak baik' ini?" "Lepaskan aku, Gin..." isak Ressa. Regin tidak melepaskan, ia justru menyingkap rambut Ressa dengan kasar, menyingkap tanda merah yang ia buat semalam. Ia mengusap tanda itu dengan ibu jarinya, membuat Ressa mendesis perih sekaligus geli. "Tanda ini... ini adalah bukti bahwa kamu milikku, bukan milik martabat Papamu atau harapan Mamahku," bisik Regin. Ia merunduk, menjilat tanda itu lagi dengan lidahnya yang hangat, membuat seluruh pertahanan Ressa kembali luruh. "Jangan... Regin... Tiara menunggu di kolam..." rintih Ressa, namun tangannya justru mencengkeram bahu Regin. "Biarkan dia menunggu. Dia hanya figuran dalam cerita ini, Ress. Kamu pemeran utamanya. Dan pemeran utama selalu mendapatkan akhir yang panas," Regin mulai membuka kancing kemejanya sendiri, matanya tidak pernah lepas dari mata Ressa yang kini dipenuhi oleh kabut gairah. Ressa tahu ia harus berteriak. Ia tahu ia harus mengusir Regin dan lari menemui Tiara untuk membuktikan bahwa dia adalah "kakak" yang baik. Namun, sentuhan Regin di pinggangnya, aroma maskulin yang memenuhi indranya, dan rasa panas yang menjalar dari leher hingga ke seluruh tubuhnya membuatnya lupa pada dunia luar. Di kamar hotel yang mewah itu, di tengah kota Singapura yang sibuk, Ressa kembali menyerah pada otoritas tanpa batas dari berondong titipan ayahnya. Ia membiarkan Regin ..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD